Sabtu, 15 Mei 2010

Keluarga (Irham Fauzi A. X-2)

Namaku Tiwi. Aku sekarang bersekolah di salah satu SMA di Bandung. Ini adalah pengalamanku yang mungkin banyak orang tidak tahu tentang pengalamanku ini. Aku memang termasuk anak yang cukup beruntung karena terlahir di keluarga yang cukup berada. Ayahku bekerja di salah satu BUMN di kota Bandung dan ibuku seorang ibu rumah tangga yang menurutku sangat baik dan perhatian. Aku merupakan anak bungsu dan mempunyai seorang kakak laki-laki yang tiga tahun lebih tua dariku. Memang aku selalu bertengkar dengannya, namun dia sangat baik menurutku. Namun aku tak pernah menyangka pengalaman yang buruk dan tak pernah kuinginkan ini terjadi.
Saat itu aku duduk di kelas tiga SD. Ayah membeli motor yang pada saat itu masih jarang orang mempunyainya. Dia selalu memakainya untuk bekerja. Dan saat itu keluargaku semakin harmonis karena bila ayah ada waktu luang, ia selalu mengajak keluargaku untuk berjalan-jalan ke toserba ataupun makan di luar. Hal itu selalu dilakukan ayah setiap minggu. Aku yang masih kecil memang sangat senang karena ayah suka membeli mainan dan makanan untukku. Dan pekerjaan ayah lama-kelamaan semakin sukses. Bahkan ayah dapat berpergian dengan mobil milik kantor yang cukup mewah. Saat hari libur ayah selalu mengajak kami untuk berwisata.
Tetapi hal itu memang terjadi sebentar. Setahun kemudian saat aku berumur 9 tahun ada konflik di dalam keluargaku. Ayah dan ibu selalu bertengkar dan aku tak tahu penyebabnya. Aku saat itu hanya bisa terdiam di kamar. Setiap hari hal itu terjadi, aku pun sudah bosan untuk melihatnya. Tapi lama-kelamaan aku baru tahu dari kakak bahwa orangtuaku bertengkar karena ayah mengikuti pengajian yang menurut ibu salah dan ayah selalu memaksa ibu untuk ikut dalam pengajian itu. Ibu selalu menolak dan mengingatkannya namuun ayah selalu marah dan kadang memukul ibu. Sering sekali ibu menangis karena perlakuan ayah. Kasihan sekali ibu, aku tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya dapat duduk di pankuannya.
Sampai pada akhirnya mimpi buruk yang aku kira itu terjadi. Ibu yang sudah tidak tahan dengan perlakuan ayah dan akhirnya menggugat ayah untuk bercerai. Ya Tuhan, hal yang tidak aku inginkan di keluargaku ini terjadi. Aku dan kakak selalu membujuk ibu agar tidak melakukan itu. Namun ibu tetap pada pendiriannya dan berat melakukan hal ini menurutnya. Aku hanyadapat berdoa dan aku selalu teringat saat-saat keluargaku dulu, kami selalu solat berjamaah, membaca Al-Quran setelah solat maghrib, bercanda, danb pergi bersama. Namun hal itu akan berakhir dan aku hanya dapat menangis serta terus berdoa. Namun ini mungkin jalan rerbaik yang diberikan Allah. Dan akhirnya ibu bercerai dengan ayah. Mulai sejak saat itu aku selalu berdiam diri dan mengenang kejadian masa lalu yang sangat manis. Namun aku tak mau terus larut dalam kesedihan karena hal itu terlanjur terjadi dan tak mungkin akan kembali dalam kehidupanku.
Aku memulai kehidupan baruku tanpa ayah karena aku tinggal bersama ibu dan kaka di rumah bersejarah ini. Sedangkan ayah tinggal di rumah nenek di Sukabumi. Memang sangat berbeda dengan kehidupanku dulu hidup tanpa ayah dan sekarang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Namun ayah selalu mengirm uang setiap bulan dan selalu bertemu denganku dan kaka karena ayah masih bekerja di kantornya di Bandung. Ayah selalu mengajak kami jalan-jalan, berbelanja, dan makan. Sifat ayah memang sama seperti dulu namun ayah kadang tidak ingin berbicara mengenai ibu. Setiap berbicara tentang ibu pasti nada bicaranya akan naik dan selalu menjelek-jelekan ibu. Aku memang mengerti perasaan ayah mengapa ia berbicara seperti itu.
Tidak terasa tiga tahun berlalu. Ibu, aku, dan kaka memang sudah terbiasa hidup seperti ini. Kini kami hidup sederhana dan cukup bahagia walaupun tidak sebahagia dulu. Kini aku menginjak bangku SMP dan aku diterima di sekolah favorit. Sedangkan kaka sudah SMA. Ibu sangat bersyukur karena anak-anaknya diterima di sekolah negeri favorit sehingga ia tidak terlalu berat membayar biaya sekolah. Namun saat aku pulang sekolah kabar buruk kembali datang. Ternyata saat masa-masa sukses, ayah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ya Tuhan, aku sangat terpukul dengan tindakan ayah itu tanpa ada alasan yang jelas darinya. Padahal saat itu pekerjaan ayah menurutku cukup sukses dan menghasilkan. Tapi ibu yang sangat terpukul dengan tindakan ayah karena ia yang akhirnya harus menopang biaya sekolah dan membiayai kehidupan kami sehari-hari. Ibu bekerja keras mencari pekerjaan dan akhirnya diterima di perusahaan meubel. Gajinya memang tak seberapa tetapi ibu tidak pernah mengeluh. Tak ingin mengecewakan ibu, aku pun belajar dengan giat. Berkat kerja kerasku, aku masuk di kelas unggulan dan selalu mendapat ranking saat pembagian rapor. Ibu sangat bangga kepadaku dan menjadikan ia selalu bekerja dengan giat dan tanpa lelah.
Setahun berlalu. Namun ibu memutuskan keluar dari pekerjaannya karena ia selalu bertengkar dengan rekan kerjanya. Dan akhirnya ia membuka warung di rumah. Memang penghasilan dari warung memang tidak cukup. Sehingga biaya sekolahku tidak terbayar. Ibu selalu dipanggil ke sekolah. Aku memang malu dengan teman-teman, tapi yang penting aku masih bisa bersekolah. Ibu terus berusaha untuk mendapat uang tambahan, mulai dari berjualan beras, berjualan pakaian, hingga menjaul alat-alat kecantikan. Ibu memang sangat baik, aku selalu merasa kasihan bila aku melihat ibu sedang mencari uang dengan kerasnya.
Tidak seperti ayah, dia hanya menikmati uang pensiunnya dengan membeli mobil dan berbelanja. Aku dan kaka bertemu ayah paling hanya enam bulan sekali, saat liburan atau saat lebaran. Aku sangat kesal dengan ayah, ia memang bersifat pemalas. Bukannya mencari pekerjaan baru, malah hanya tidur dan berdiam di rumah nenek setiap harinya. Karena sifat malasnya itu akhirnya dia menganggur dan tak berpenghasilan. Tapi saat aku liburan dengan ayah, ternyata ayah sudah menikah lagi. Ayah membuat keputusan sepihak tanpa memperhatikan anak-anaknya. Aku sangat kecewa, walaupun ibu tiriku cukup baik dan mencoba untuk akrab dengan aku dan kaka. Ibuku yang mengetahui itu selalu mengejek ayah dan menjelek-jelekannya. Ayah memang tidak terlalu berarti dalam hidupku sekarang namun aku tetap menghormatinya sebagai ayah.
Teman-teman selalu bertanya,”Ayahmi mana Wi?” Namun aku hanya terdiam dan teman-temanku yang mengerti dengan keadaanku yang menjawabnya,”Ayah dan ibunya bercerai”. Teman-teman memang selalu menceritakan tentang keluarganya, sedangkan aku hanya dapat mendengarkannya. Setiap aku melihat foto keluarga, aku selalu terkenang dengan keluargaku yang harmonis sewaktu dulu. Aku sempat berfikir, Allah tidak adil terhadap hambanya terutama aku. Tapi aku berusaha membuang pikiran jelek itu jauh-jauh. Karena ibu selalu mengingatkanku, bahwa ada yang lebih menderita daripada aku seperti anak jalanan dan anak yatim piatu. Memang benar menurut ibu banyak orang seusiaku yang ditinggalkan orang tuanya dan diasuh oleh orang lain.
Hari-hari pun berlalu, dengan kerja keras ibu penghasilannya pun bertambah. Ibu sudah dapat membelikanku komputer untukku dan motor, walaupun tidak bagus-bagus amat. Tapi aku tetap mensyukurinya dan ibu selalu berkata,”Allah tidak akan pernah tidur. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha sementara Allah yang bekehendak. Pasti ada hasil yang manis bila kita terus berusaha. Jangan pernah membenci ayahmu walaupun telah mengecewakanmu. Dan kamu harus akur dengan kaka jika ayah dan ibu telah tiada.” Itulah kata-kata yang tidak akan aku lupa dari ibuku. Aku sangat beruntung karena memiliki ibu yang sangat baik walaupun tidak memiliki keluarga yang harmonis dan utuh seperti orang lain.

Pengalaman yang Menyenangkan (Aldi Surya X-2)

Saat hari Minggu pada tanggal 31 Januari 2010, saya beserta para anggota AKB melakukan acara yang berhubungan dengan ulang tahun AKB yang ke-2. Pada waktu itu para anggota AKB merencanakan untuk merayakan ulang tahun AKB di Situ Patenggang yang sudah ditentukan beberapa bulan yang lalu sebelum melakukan acara ulang tahun ini. Saat itu saya dan para anggota AKB disuruh kumpul di suatu tempat yang sudah ditentukan jam 08.30 WIB pada yng sudah dibicarakan pada saat rapat. Waktu itu saya datang ke tempat ang sudah di tentukan pada jam 08.00 untuk menyamper teman-teman saya yang mau ikut acara AKB tersebut. Sesudah menyamper teman-teman saya, saya bersama teman-teman pergi ke tempat tinggal Mas Uwin yang sudah dibicarakan pada saat rapat itu. Disana kami menunggu anggota AKB lainnya yang belum datang samil main kartu dan ada juga yang ol sambil mainan hp. Sesudah semua anggota AKB kumpul semua kami yang ikut dalam acara ulang tahun AKB diberi baju yang sudah kami beli di sebelum hari. Kemudin kami didata orang-orang yang ikut dalam acara itu. Sesudah diberi baju dan didata kami disuruh untuk pergi 5 orang 5 orang untuk meninggalkan Sulaiman
Pada saat itu saya pergi ke Patenggang besrsama sahabat saya yang bernama Oki dengan menggunakan motor saya dan para anggota lainnya pun menggunakan motor semua, saat itu Oki yang mengendarai motor saya karena saya tau Oki sudah biasa pergi menngunakan motor dengan perjalanan jauh. Setelah kami keluar dari Sulaiman kami disuruh untuk kumpul lagi di terminal Gading. Di terminal Gading saya dan para anggota AKB di absen supaya tidak ada yang tertinggal dan disana juga kami melakukan do’a bersama agar perjalanan kami lancar dan tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Sesudah pengabsenan dan berdo’a selesai kami disuruh untuk mengisi bensin dahulu bagi yang mau mengisi agar tidak mogok saat perjalanan. Sesudah semua selesai mengisi bensin dan sudah siap semua kami mulai melakukan perjalanan melalui jalur Soreang. Kami melakukan perjalanan seperti layaknya anggota yang bekonfoi. Kami berkonfoi dengan tujuan agar nama AKB dapat terkenal di kalangan masyarakat dan dihargai oleh masyarakat.
Pada saat perjalanan saya melihat pemandangan yang sangat indah dan udara yang sangat segar dan sejuk yang dipenuhi berbagai macam pepohonan dan tumbuhan. Setelah setengah perjalanan kami para anggota Akb beristirahat untuk melemaskan otot-otot yang telah menempuh perjalanan jauh. Kami beristirahat di pinggir jalan yang sisi jalannya lumayan lebar, disana kami makan dan minum sambil sesekali bercanda tawa selain itu juga ada yang berfoto-foto bersama sambil menunggu rasa letih yang hilang. Selama kami melakukan perjalanan kami bertemu dengan para anggota lain yang berkonfoi. Disana kami saling menyapa dengan kata “woy”. Setelah kami melakukan perjalanan selama dua setengah jam kami tiba di tempat yang kami tuju yaitu Situ Patenggang. Sebelum kami masuk kami membayar tiket dahulu. Seelah membayar tiket kami mulai masuk ke areal Situ Patenggang. Setelah tiba kami sholat dahulu bagi yang agamanya islam. Kemudian disana kami melakukan aktivitas yang sudah kami rencanakan sebelum-sebelum hari.
Di Situ Patenggang kami melakukan aktivitas yang pertama yaitu pergantian ketua AKB. Setelah pergantian ketua kami melakukan foto bersama anggota/keluarga besar AKB. Kemudian setelah berfoto-foto kami langsung bebas melakukan apa saja. Namun karena kami tidak tahu apa yang mau kami lakukan kami disuruh naik kapal saja oleh ketua AKB. Kami semua pun naik ke kapal yang akan kita naiki. Pad saat kami naik kapal tiba-tiba cuaca menjadi buruk dan pada saat itu tiba-tiba ada kabut yang tebal saat kita naik kapal disana kami semua panik, akhirnya para pemilik kapal mencari kapalnya masing-masing dna langsung mengambil kemudi kapal. Setelah kami puas menaiki kapal kami pun menyudahi naik kapalnya. Sesuah itu kami makan bersama dan setelah selesai makan kami langsung sholat ashr. Sesudah sholat ashr kami langsung bersiap-siap untuk pulang ke rumah kami kembali. Namun pada saat itu hujan turun dengan deras. Kami semua pun memakai jas hujan dan langsung melakukan perjalanan pulang.
Karena pada saat pulang kami melakukan perjalanan dengan jalan yang turun dan licin ketua menyarankan untuk melakukan perjalanan pulang dengan pelan-palan saja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya dan anggota yang lainnya menuruti perintah itu. Karena kami melakukan perjalanan pulang secara pelan-pelan dan jalannya yang turun kami melakukan perjalanan pulang selama satu setengah jam. Setelah kami masuk areal Soreang kami disuruh untuk kumpul lagi di terminal Gading untuk melakukan do’a bersama karena kami telah diberi keselamatan dalam melakukan aktivitas dan perjalanan selama seharian penuh ini. Setelah itu kami dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saya tiba di rumah pada pukul 17.30 WIB. Seampainya di rumah saya merasa senang sekali melakukan aktivitas yang saya lakukan bersama anggota AKB selama seharian penuh. Dan itu merupakan pengalaman yang sangat nmnyenangkan selama ini. Pengalaman itu tidak akan saya lupakan sampai kapan pun. Dan saya berharap kejadian itu terjadi lagi di tahun yang akan datang.
Demikian cerita yang dapat saya ceritakan. Maaf bila ada salah kata.

YYYEEESSS…. (Janitra Rizky P. X-2)

Namaku Tama umurku 15tahun, aku sekolah di salah satu sekolah di Bandung. Aku anak pertama dari 3 bersaudara , aku tinggal di daerah Antapani.
Waktu itu hari minggu tanggal 25 mei 2010, temanku yang bernama Raka mengajakku main untuk mengisi waktu yang kosong. Lalu kami janjian di depan rumah raka tak kusangka Raka mengajak ke dua teman wanitanya yang bernama Dita dan Elsa. Di situ aku salting banget ketika melihat kedua wanita cantik apalagi yang namanya Dita wwooww cuco bangetlah sampe-sampe aku jatuh cinta pada pandangan pertama hihihi lalu aku masuk ke rumah Raka untuk salam pada orang tuanya kemudian langsung masuk ke kamarnya Raka.
“ woi, kenapa kamu bawa cewek sih ka?” tegurku pada Raka.
“biarin aja biar seru Tama , terus ada yang mau kenal tu sama kamu yang namanya dita”. Jawab Raka .
Ooohhh tuhan apa ini mimpi??? Cewek yang aku taksir itu ternyata ingin mengenalku?? Hahahaha ini benar-benar seperti mimpi .
“yang bener ka ??” tanyaku sambil semangat.
“iya bener Tama bawel banget sih , kenapa?? Tumben-tumbenan sampe seneng banget mau di kenalin sama cewek aja biasanya juga biasa aja, hhhhmmm … jangan-jangan kamu suka ya sama dena??” jawab Raka.
“weeeiii kata siapa ka?” kataku
“ya mungkin aja kamu suka , secara Dita cewek paling cantik gituloh d sekolahnya”.
Wwaahh mungkin gue banyak saingannya nih hahahaha tak apalah . lalu kamipun berangkat Raka dengan Elsa sedangkan aku Dengan Dita. Serasa mimpi aku ngebonceng bidadari dengan rasa sombong aku perkenalkan pada dunia bahwa ini cewek gue(padahal bukan) dengan cara bahasa tubuh gue, ku bawa motor dengan gagahnya cewek maupun cewek melihat kearah kami mungkin mereka berkata “ wow itu pasangan yang serasi ya”, hahahaha amin amin jadi pacar aja belom. Pertamanya aku diam saja lalu Dita mengajakku ngbrol ya aku ladenin . lalu perjalanan kami di hiasi dengan penuh canda dan tawa. Tak terasa kami sampai di salah satu mall di kota Bandung.
“ wei nonton yu?” kaya Raka
“nonton apa?” jawab Elsa
“apa ajalah , gimana kalo film horror?” kata Raka.
“ hayu-hayu ih itu da film horror yang judulnya ***** katanya rame”. Sambung Elsa
Hhuuuhh ya sudah aku ikuti kemauan dua sejoli itu aku dan Dita hanya terdiam . kami kebagian yang jam 16:45 wwwiihhh udah sore pasti pulangnya malam, tapi tak apalah pasti ini hari paling seru. Karena bias deket-dekt sama si bidadari ini( Dita ). Ketika sedang menonton tak sengaja aku menyentuh tangannya Dita , aku kaget ternyata tangan yang tadi aku sentuhkan pada tngan Dita ternyata di pegang olehnya dengan erat rasa degdeggan lah yang aku rasakan . huh sepanjang film Dita memegang tanganku hatiku merasa sangat tenang saat bersama dengannya. Setelah selesai nonton kami makan di salah satu restoran di depan mall itu kami bercanda-canda ria sambil menuggu hujan yang reda hehehe kulihat muka Dita yang penuh seri dan cahaya itu membuatku melting banget sama dia. Lalu hujan reda dan kami pulang pada pukul 20:00 hihihi nah pada malam itu aku mulai memberanikan diri untuk menembak dia. Kenap aku berani??? Karena Raka dan Elsa sudah pulang duluan hahaha.
“Bismillahhirohmanirohim ehem dita aku mau ngomong sesuatu sama kamu” . kataku sambil gugup
“mau ngomong apa Tama?” jawabnya
“sebenernya Tama suka sama Dita, dita mau ga jdi pacar Tama?”
Dia kaget banget saat aku menyatakan cinta kepadanya, dia hanya berseri-seri di barengin rasa malu lalu aku mendengar kata yang aku tunggu – tunggu .
“iya” kata Dita
“iya apa?” jawabku agak sedikit kaget
“Dita mau jadi pacar Tama”. Jawab Dita sambil malu-malu
Badai petir di siang bolong aku kaget banget saat Dita menerima cintaku aku berjanji akan selalu membuat dia nyaman denganku..

Pengalaman Tercihuy (Resa Ramdiansyah X-2)

“Jeevas!!!!!!ayo cepat bangun!!!...”, teriak ibuku. Itulah kata kata setiap pagi yang ku dengar, karena aku sering bangun telat. “Ya bu!!sebentar lagi”, jawabku. Langsung aku pergi mengambil handuk dan ke kamar mandi. Hari sabtu, ya hari dimana aku harus menjalani rutinitas ku. Paginya aku sekolah, lalu setelah itu aku pergi ke basecamp tempat geng motorku berkumpul. Aku memang sengaja menyembunyikan hal ini dari orang tuaku karena orang tua ku akan marah bila mengetahui ini.
Saat di sekolah, teman-teman segengku bertanya, “ Hari ini kita jalan kan?”. “Ya”, jawabku. Ya maklum lah mereka bertanya seperti itu padaku karena aku memang telah diberi kepercayaan untuk menjadi kordinator di sekolah ku oleh ketua geng tersebut. Di sekolah ku sedang ramai dengan yang namanya geng (maklum karena geng ga jelas emang banyak). Lalu teman-teman segengku bertanya “Wah L kayanya ada anak geng....(L = nama panggilanku), kita basmi jangan??”. “Yang mana sih orangnya?”, sahutku. “Tuh Mr. Z (disamarkan), sekarang lagi ada di kantin dia”,,,, “Ya sudah nanti kalau udah pulang sekolah bawa dia ke tempat biasa, OK?”,,,, “Sip sip”, jawab mereka. Bel pulang pun berbunyi, segera lah aku pergi ke tempat yang sudah di janjikan tadi. Ternyata teman-teman ku sudah berkumpul bersama Mr. Z, tak banyak lama mereka langsung mengintrogerasi si Mr. Z. Pada awalnya si Mr. Z tidak mengaku tapi setelah sekian lama dia mengaku juga. “Lu anak geng .... ni ya?”, tanya temenku, “Ga gan”, jawabnya,, “Ahh, bohong ya lu?”,,, “Serius bang”,, “ Yang bener?”,, “Iiiiiiyaa gan”. Tak lama temenku langsung memukul nya, dan temen temenku yang lain ikutan. Aku pun ikut memukulinya. Mr.Z pun bonyok dan di penuhi darah. Itulah salah satu pekerjaan kami yaitu, memukuli anggota atau ga ketua geng lain yang “PORENGES” (kata bahasa sunda saya ga tahu bahasa Indonesianya apa,,,hehehe).
Malam pun tiba, kami semua sudah mempersiapkan motor dan semuanya. Teman-teman dan aku pun siap berangkat, pada saat di perjalanan kami bertemu dengan beberapa anggota geng .... Tanpa basa-basi temanku langsung mengeluarkan sebuah samurai dan yang satu lagi mengeluarkan kapak. Habislah mereka sudah, kami tinggalkan mereka dan kami pun melanjutkan perjalanan. Sesaat sampai di tempat biasa kami nonkrong, datanglah beberapa anggota geng yang sama namun berbeda sekolah. Memang geng ...... itu cukup terkenal, maka banyak orang yang bergabung dengan geng tersebut. Pukul 03.00 dini hari tiba, kami semua bubar pulang ke rumah masing-masing. Namun saat di perjalanan kami bertemu dengan 1 sepeda motor dengan yang mengendarainya memakai jaket dengan corak bendera gengnya. “Wew, berani amat dia pake tu jaket di wilayah kita”, sahut temanku. Aku pun segera menyusulnya dan meminggirkannya, “Heh, sia anak siapa berani berani nya pake tu jaket di wilayah sini?”, tanyaku. “Terserah aing yang pake aing kenapa lu yang nyolot?”, dengan nada yang aneh. Karena dia mungkin sudah meminum-minuman keras, lalu dia mabuk. Tak banyak omong, temanku langsung membawanya ke sungai yang besar dan melemparnya (kasian tuh orang, wkwkkwkw). Keesokan harinya, aku mendapat berita kalau teman kami yang sudah putus sekolah terbunuh. Kami semua pun kaget, tapi salah satu dari kami langsung menebak siapa pelakunya. Ya dia adalah salah satu orang yang kami keroyok pada waktu itu, kami pun langsung mencarinya tanpa segan-segan temanku pun langsung membawanya ke tempat yang kosong dan melakukan sparring (sparring yaitu pertarungan 1 lawan 1). Setelah 1 jam mereka yang berkelahi akhirnya dari pihak kami menang, musuh kami terbunuh seketika setelah diberi pukulan yang sangat keras. Ya wajarlah lah temanku itu tubuhnya besar dan berotot, hahahaha.
1 minggu berlalu, tak ada berita tentang terbunuh nya teman kami atau apalah semacamnya. Tapi aku kaget ketika melihat seorang perempuan melewat di hadapanku. Seketika jantungku berdebar dan aku pun terpesona melihatnya. Di dalam hatiku aku ingin tau siapa namanya, tapi aku harus bersabar mungkin belum waktunya toh satu SMA ini, pasti gampang untuk mencarinya. Keesokan harinya aku bertemu ladi dengan perempuan itu, ga pake lama aku langsung mengajak berkenalan dengannya, “Hei, boleh kenalan ga?namaku Jeevas tapi biasa dipanggil L, kalo kamu?”, seruku. “Boleh, namaku May cukup panggil May saja”, jawabnya. Lalu aku meminta nomor Hpnya, 2 minggu setelah kejadian itu aku sering sms an dan telpon-telponan dengannya. Lalu 1 minggu setelahnya aku resmi menjadi pacarnya, aku berusaha untuk menutup-nutupi bahwa aku adalah seorang anak gangster. Tapi tak lama setelah itu dia tahu kalau aku seorang gangster karena dia melihat coretan-coretan di dinding. Yang diatas adalah nama gengnya dan dibawah nama tersebut ada nama anggota-anggotanya. Mungkin karena aku ceroboh, aku menuliskan L di dinding (bodohnya diriku...Lebay...hahaha). Lalu May bertanya kepadaku, dia menanyakan kalau aku anak gangster bukan. Dengan gugup aku menjawab, “Iiiiya May.”. Lalu dia menjawab, “Aku tak peduli mau kau anak gangster, anak raja atau anak apapun, aku tak peduli yang penting kau mencintaiku dan aku mencintaimu” (so sweet nya kata kata urang?hahaha). Langsung aku memeluknya dan berkata, “Terima kasih May, You are my lovely girl” (wew naha urang jadi Lebay kieu?ahahaha).
Malamnya, ada sms dari temanku, “L, cepet ke basecamp anak anak geng..... mau nyerang kita”. Aku pun langsung membawa samurai dan meletakkannya di punggungku. Setelah berada disana aku dan teman-temanku yang lain sudah siap untuk bertempur senjata-senjata tajam sudah siap ditangan kami. Tak lama setelah itu terdengar suara motor, yang dapat aku lihat ada 50 motor, tapi pasukan kami tak kalah banyak. Tak banyak lama kami langsung menyerang mereka, darah bercipratan dimana dimana. Pertarungan sengit pun terjadi antara aku dan bos mereka, tapi dia malah kabur karena sudah terluka cukup parah. Tak ada yang tersisa dari pasukan mereka. SEMUANYA TERBUNUH. Tapi dari pihak kami pun cukup banyak yang terluka berat.
4 hari setelah kejadian itu, aku menerima sms saat aku sudah pulang sekolah, “Datang ke gedung bekas sepatu pukul 7 malam ini yang berada 5 km dari rumahmu, kini saya telah menyandra ibumu dan pacarmu, pilih salah satu dari mereka!! dan ingat jangan membawa satu orang pun cukup kau saja bila dilanggar akan kubunuh mereka berdua!”. Setelah menerima sms itu aku langsung menelpon ibuku namun mailbox, menelpon pacarku pun sama. Aku menjadi bingung, lalu aku menyuruh anak anak gengku untuk berkumpul. Tak terasa pukul 7 pun tiba, kami langsung berangkat ke tempat tujuan namun 1 km dari gedung itu aku menyuruh teman-temanku untuk berhenti dan menjaga ku cukup dari sini saja. “Bila nanti 20 menit kedepan aku tidak kembali kesini lagi, cepat pergi ke gedung itu,ok?!”, seruku. “Sippppppp”, jawab mereka. Lalu aku masuk ke gedung itu sendirian. Setelah masuk, aku langsung mencari tempat ibuku dan pacarku disekap tapi dengan tiba-tiba datang lah seseorang dengan membawa 2 orang wanita. Ya dugaanku selama ini tepat ternyata lelaki itu adalah bos yang waktu itu berkelahi denganku dan 2 wanita itu adalah ibuku dan pacarku. Mereka berdua berteriak minta tolong, karena dia mengikat mereka dengan tali yang apabila tali itu ditarik maka mereka pun akan mati karena tali tersebut ada di leher mereka, setelah itu dia menawarkan mana yang akan ku tolong ibuku atau pacarku. Aku sangat bingung untuk memilihnya, lalu aku pun berkata aku tidak memilih siapa pun. “Aku memilih kau untuk menjadi lawanku sekarang, brengsek”. Ternyata dia sudah mempersiapkan semua ini. “Baik aku akan menjadi lawanmu tapi pikirkan baik-baik apa yang akan terjadi nanti!”, kata dia. Aku hanya terdiam saja, lalu dengan tiba-tiba ada api didalam gedung itu. “Apa dia membakar gedung ini?shit!!!!”, pikir ku. Lalu aku melihat ibu dan pacarku, ibuku tergeletak pingsan. Tapi dibelakangku musuh sudah siap memukul, aku pun menghindarinya. Dengan terpaksa aku harus berkelahi denganya. Ternyata pertarungan ini sangat sengit, kami saling menyerang tapi tak ada satupun yang kena. Aku pun mengambil kayu yang ada di depanku dan memukulnya. “Bukkk”, suara kayu itu. Aku memukulnya, dia pun tergeletak. Kobaran api makin membesar, aku berlari ke arah mereka berdua dan melepaskan tali di masing-masing leher mereka tapi ibuku tidak sadar dia pingsan. Aku menyuruh pacarku May untuk berlari dan meminta bantuan tapi api makin membesar dan kami sulit mencari jalan keluar karena api berada dimana-mana. Namun 20 menit berlalu, aku melihat dari sebuah kaca teman-temanku datang. Tiba lah mereka, mereka melihatku sekarang tapi sangat sulit untuk mencari jalan keluar. Lalu aku menyuruh lompat dari kaca tersebut karena di bawah teman-temanku sudah siap untuk menangkapnya. Tapi pada saat aku hendak melompat ada yang menarik bajuku dan akupun langsung terjatuh yang sambil menggendong ibuku.“Hei, L pengecut datang kemari aku akan membunuhmu sekarang!”. Ternyata dia bangun lagi, dan sekarang mengajak aku duel dengannya sampai mati. “Tapi bagaimana dengan ibuku? Beliau pingsan.?”, pikirku. Lalu aku mencoba untuk meraih ke jendela yang tadi tapi sebelumnya aku harus memukulnya sampai tergeletak dahulu. Aku pun terus menghindar, dan pada saat ada celah, aku langsung memukulnya. “Brukkk”, dia pun terjatuh lalu. Dengan kesempatan ini aku langsung membawa ibuku dan siap melemparkannya ke bawah dan aku pun berteriak “Ibuku pingsan segera bawa dia ke rumah sakit”. “Aku harus membunuhnya terlebih dahulu agar dia tidak mengganggu lagi”. “L, kau mau kemana?”, tanya temanku yang di bawah. Aku tidak menjawabnya, dan aku pun langsung menghampiri musuhku. Shit, ternyata dia hanya menipuku dia hanya berpura-pura terbaring dan langsung memukulku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, tapi dengan tenaga yang masih ada sebisa mungkin aku melawannya. 30 menit berlalu, kami sudah merasa kecapean dan api pun makin membesar, aku pun sulit untuk bernapas. Dia terus menyerangku, sesekali aku menyerangnya. Keadaan semakin sulit tapi untungnya ada sebuah kayu, dia pikir aku akan memukul nya dengan kayu tapi tidak aku hanya akan melemparnya untuk mengalihkan perhatiaanya dan menendang balik. Ternyata rencanaku berhasil, dia terkecoh dan jatuh. Lalu aku mengangkatnya dan melemparnya ke kobaran api, dia pun terbakar. Aku langsung mencari jalan keluar, dengan mata yang berkunang-kunang aku tidak menyerah jalan keluar. Kobaran api makin membesar dan aku melihat ada banyak drum di ruangan tertutup minyak tanah mungkin dalam waktu 5 menit akan meledak. Untungnya, ada 1 jendela aku pun langsung meloncat ke arah jendela itu dan hokinya lagi disana ada teman-temanku yang sudah siap menolongku. “Cepat pergi dari sini, gedung ini sebentar lagi meledak”, teriak ku. Akhirnya kami pergi dari sana dan saat itu juga gedung itu meledak. “DUARRRR”, terdengar suara gedung itu meledak.
Kini aku berada di rumah sakit dimana ibuku dirawat. Setelah siuman, ibuku berkata “Kamu memang hebat anakku”. Dan pacarku bilang “You are my hero”. (hahaha kok terakhirnya jadi lebay gini??haha..).



Resa Ramdiansyah
X-2
Note : Maaf kalo ada kata- kata yang aneh, maaf kalo cerpennya ga jelas...(hehehehe)....Maaf Pa Roy Cerpennya ga jelas,,,wkwkwk,,,salam damai....^_^

Kasih Bunda (Suci Nur X-2)

Pagi itu mentari bangun dari peraduannya. Memberikan warna terang di langit dan mengusir gelapnya malam. dikala semua orang tengah tertidur lelap, ada seorang wanita tua yang tak tertidur. berada di dapur, berkutat dengan kompornya yang tak mau nyala. terbatuk-batuk ia menyiapkan barang dagangannya. tak di sangka, saat seorang ibu separuh baya itu sibuk di dapur sendirian, anak perempuannya malah tertidur pulas di kamarnya. masih menikamati inahnya mimpi, masih ditemani empuknya bantal dan guling.
"Nak, bangun... bantu ibu di dapur..." kata ibu sambil terbatuk-batuk.
Mendengar panggilan ibunya, anak itu langsung terbangun, namun bukannya malah membantu dia malah menghardik ibunya, "Heh, ibu tua! kamu tau tidak aku mengerjakan tugas sampai larut malam, jadi jangan bangunkan aku sepagi ini!" kata anak itu seraya kembali lagi ke kamarnya.
"Dinda..." ibu setengah baya itu hanya membantin.Akhirnya, pagi sudah benar-benar datang menghampiri kota itu. Si anak yang bernama Dinda pun juga sudah bterbangun dari tidurnya yang katanya telah terganggu oleh rengekan manja ibunya.
"Mau ke mana kamu nak? bukannya kamu hari ini libur...?" tanya ibunya yang tengah menjemur baju. 95% baju yang iya cuci adalah baju anaknya.
"Aku mau pergi ke mana bukan urusan mu tahu!" hardik anaknya sekali lagi.
"Tapi aku ibumu, Nak." kata ibunya mengejar si anak.
"Aku berhak tau ke mana kamu pergi..."kata ibunya.
"Kalau kamu sudah bisa membuat aku bahagia dan kita punya banyak uang, kamu baru aku anggap ibu!" hardik si anak lalau pergi.Ibunya jatuh lemas karena mendengar kata-kata naknya yang telah melukainya.Ia merintih, bersimpuh kepada Allah memanjatkan doa kepadaNya.
"Ya Allah, berikan petunjuk pada hamba-Mu ini ya Allah... aku tak tau lagi apa yang harus aku lakukan pada anak hamba... hamba telah gagal..." kata si ibu sambil meneteskan air mata.

Satu minggu...satu bualan...
Telah satu bulan lamanya Dinda tidak pulang ke rumah, ibunya telah mencarinya ke mana saj aia bisa, dengan bantuan Pak Rt ia terus mencari, keluar masuk kantor polisi untuk mencari anak satu-satunya yang ia sayangi.Setelah dua bulan lamanya, Dinda kembali ke rumahnya.
"Dinda, nak... kemana saja kamu? Ibu rindu kamu..." kata Ibunya.
"Sudah, lepaskan aku! aku nggak suka dipeluk kamu! jauh-jauh dari aku!" kata Dinda kasar seraya masuk ke kamarnya. ibunya mengikuti dari belakang.
"Kamu ke mana nak?" tanya ibunya dengan lembut.
"Apa peduli mu! sudah sana keluar!" kata Dinda kasar.

Siang pu berganti malam, tiba-tiba di tengah malam yang tenag, ada suara ketukan dat\ri pintu depan."Tok...Tok...Tok...!"
"Iya...iya..." jawab ibu yang pasing mengenakan mukenah, lalu ia membuka pintunya.
"Iya?"kata sang ibu
"Benar di sini rumah Dinda?" tanya orang yang berperawakan besar itu.
"Iya, benar..." kata ibu ragu-ragu.
"Dia punya hutang dengan kami, kalian harus membayar hutangnya malam ini juga, kalau tidak, terpaksa, Dinda harus di jual...!' kata orang itu sambil menyeringai.
"Dijual? jangan... jangan... kami yakin kami bisa melunasinya... berapa hutangnya?" tanya ibu, suaranya bergetar.
"1.500.000 rupiah! kalian bisa bayar?" kata orang itu.
"hm... kami yakin kami bisa bayar... " kata oibu, tatapannya mulai mengiba.
"Hahaha... sudahlah, aku yakin kau tak akan bisa bayar hutang anamu! jika kau jual rumah ini saja tak akan bisa melunasi hutang mu!" kata orang itu.
"Ada apa sih ribut?" tanya Dinda dari dalam.
"Oh, ini dia si Putri Dinda...hahahaha" kata orang itu meledek.
"Siap ini Dinda? kata nya kamu punya hutang?" tanya ibu.
"Iya, aku punya... aku memang harus pergi... kamu diem aja!" kata Dinda.
"Tidak, lebih baik ibu saja, ibu tidak mau merusak masa depan kamu. lagian, ibu juga masih bisa kerja." kata ibu berusaha untuk membela anaknya.
"Tidak, kamu ngga ada urusan dalam hal ini!" bentak Dinda.
"Ok... udah ada yang bisa berangkat?" tanya laki-laki itu.
"Baik," ibu pun mulai berjalan mengikuti laki-laki misterius itu.
"Aku sayang kamu, Nak... jaga dirimu baik-baik..." kata ibu untuk terakhir kaliya.
"Ibu, maafkan aku, aku telah bersalah, maafkan aku..."kata Dinda sambil menangis.
"Aku telah memaafkan mu, sejak dulu nak..." kata ibu sambil tersenyum.
Akhirnya, hanya sesal yang dirasa Dinda, namun, di dalam hati kecilnya, dia selalu bersyukur karena telah diberikan ibu semulia ibunya.

Jumat, 14 Mei 2010

Adakah Kata Maaf Untuknya (Cici D. X-2)

Nama ku Putri, aku adalah seorang pelajar kelas 3 di sebuah SMP di daerah Bandung. Sama seperti anak-anak seusia ku, aku juga sudah mulai mengenal yang namanya cinta, yaa mencintai dan dicintai. Mungkin itu yang sedang aku rasakan saat ini. Sudah 2 bulan lebih aku menjalani kisah kasih dengan seseorang yang sangat aku sayangi. Dia adalah Ramdan, seorang pelajar kelas 2 disalah satu SMA di Bandung. Hubungan kami berjalan sangat baik, bahkan bisa dibilang tak pernah ada masalah. Setiap hari kami berangkat dan pulang sekolah bersama, walaupun sekolah kami berjauhan, tapi Ramdan tak pernah absen mengantar dan menjemput ku sekolah.

Itulah yang membuatku mulai menyayanginya. Karna memang awal aku menerimanya bukan karna cinta, tapi hanya sebatas kasihan, tak ada perasaan sayang sedikitpun dihatiku untuknya. Tapi karna sikapnya yang sangat perhatian kepadaku, semakin hari rasa sayangku semakin bertambah kepadanya.

Selama 2 bulan ini, aku mulai menyadari bahwa aku tak mau kehilangan Ramdan. Perasaan sayangku semakin besar kepadanya. Aku tak ingin menyakiti Ramdan seperti aku menyakiti orang-orang yang pernah mengisi hatiku dimasa lalu.

Sejak itu yang ada dihati dan pikiranku hanyalah Ramdan. Tak pernah ada yang lain. Bahkan Ananda, laki-laki yang pernah aku sayangi selama 3 tahun, aku lupakan begitu saja.

Ramdan…. Ramdan….. dan Ramdan……

Itulah yang aku tulis setiap hari hampir disemua buku catatan sekolah ku. Tak pernah bosan aku menulis namanya.

Aku tak pernah bisa melupakannya sedetik pun.

* * *

Hari berganti hari, minggu berganti minggu.

Sikap Ramdan semakin berubah, dia tak seperti dulu.

Dia tak pernah memberi kabar padaku, seolah-olah lenyap di telan bumi. Kemanakah dirinya? Itulah pertanyaan yang selalu hinggap di benakku setiap hari. Banyak orang yang mengatakan bahwa Ramdan selingkuh. Tapi aku tak mempedulikan semua orang menjelek-jelekan Ramdan. Bahkan Dinda sahabatku sendiri yang mengatakan semua itu, tapi aku tetap tak mempercayainya. Aku percaya pada Ramdan. Aku sangat menyayanginya. Ya Tuhan aku sangat merindukannya. Aku semakin menyadari bahwa aku tak mau kehilangannya. Itulah yang selalu ada dipikiranku.

Setiap hari aku dihantui rasa gelisah karena rindu yang sangat menggebu. Selalu berharap untuk bertemu dengannya walau hanya untuk melepas Rindu.

* * *

Beberapa hari kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku. Betapa senangnya aku saat itu, ternyata yang mengetuk pintu rumah ku itu adalah kak Dian, dia adalah kakak kandung Ramdan. Sebelum mengenal Ramdan aku memang pernah dekat dengan kak Dian, dan pernah ada perasaan suka dihatiku kepadanya. Aku membukakan pintu sembari tersenyum manis untuknya.

“Kakak, tumben dateng kerumah. Ada apa kak?” tanya ku dengan perasaan bahagia.

“Ini dhe, kakak kesini mau ngasihin ini buat kamu” tutur kak Dian sembari memberikan sebuah undangan berwarna biru.

Aku mengambil undangan itu dengan parasaan penasaran yang luar biasa. Kemudian aku membuka undangan itu, ternyata itu adalah undangan pernikahan. Yaa pernikahan kak Dian dengan seorang perempuan bernama Santi. Saat itu tubuh ku lansung lemas, ternyata seseorang yang pernah aku sayang akan menikah. Perasaan sedih bercampur kecewa lansung membuatku terdiam. Tapi aku berusaha untuk sadar, karena didepan ku masih ada kak Dian.

“Kakak mau menikah?” tanyaku dengan raut wajah yang masih kaget.

“Iya dhe. Dateng ya….!” jawab kak Dian dengan wajah yang sangat bahagia.

“Iya kak” jawabku begitu singkat.

Kemudian kak Dian pamit untuk pulang. Aku segera masuk kedalam rumah dan menggambil telepon untuk menelepon sahabatku, Dinda. Aku menceritakan semuanya kepada Dinda, dan aku memintanya untuk menemaniku datang kepesta itu. Akhirnya Dinda bersedia menemaniku datang kepesta.

Yang aku aneh saat itu, kenapa Ramdan tak memberitahuku tentang pernikahan kakak nya. Tapi ya sudah lah, mungkin dia sibuk. Aku berusaha berfikir positif.

* * *

Minggu, 18 Januari 2009, tanggal parayaan pesta yang tercantum pada undangan. Hari itu aku dan Dinda bersiap-siap untuk pergi ke pesta, jam satu siang kami berangkat dari rumah.

“Beneran Put kamu mau dateng?” tanya Dinda merasa tak yakin dengan keputusan ku.

“Iyalah Din, gak enak kan kalau aku gak dateng. Aku dah terlanjur bilang iya sama kak Dian. Siapa tahu juga aku ketemu sama Ramdan. Iya kan?” jawabku berusaha meyakinkan Dinda.

“Yaudah kalau begitu, aku nurutin kamu aja” Dinda mengikuti keinginan ku.

Kami sampai ditempat berlansungnya acara jam satu lebih tiga puluh menit. Kami lansung menghampiri kak Dian yang berada disamping seorang perempuan yang tidak aku kenal.

“Kamu dateng juga dhe, kakak tunggu dari tadi, kirain gak akan dateng” ucap kak Dian ketika aku datang menghampiri untuk bersilaturahmi kepadanya dan perempuan disampingnya.

Bibirku terasa dingin dan membeku, aku tak mampu berkata apa-apa dan hanya bisa tersenyum dengan terpaksa untuk membalas ucapan kak Dian.

Aku dan Dinda duduk dikursi untuk tamu. Kami hanya duduk melihat tamu yang keluar masuk dari tempat berlansungnya acara itu. Karna memang niat ku hanya untuk memenuhi janjiku kepada kak Dian untuk datang di pesta pernikahannya.

Aku kemudian teringat kepada Ramdan. Aku berusaha mencarinya diantara ratusan tamu undangan yang hadir. Tapi aku tak menemukannya.

Tak lama kemudian aku melihat orang yang menghampiri kak Dian, dan itu adalah Ramdan. Betapa senangnya aku saat itu, bisa melihat seseorang yang benar-benar aku rindu. Saat aku hendak memanggilnya, tiba-tiba datang seorang perempuan mendekati Ramdan. Ramdan begitu dekat dengan perempuan itu, mereka seperti sepasang kekasih. Mereka berjalan berpegangan tangan, dan melintas di depan kedua mataku tanpa menghiraukan ku. Bagaikan disambar petir, perasaan ku saat itu benar-benar bercampur. Ingin rasanya aku marah kepada ramdan saat itu, tapi apalah daya ku, aku tak kuasa melakukan semua itu. Aku hanya berusaha menahan tetesan air mata yang hampir jatuh ke pipiku. Dinda hanya terdiam melihat semua itu. Kemudian aku menanyakan semuanya kepada teman-teman Ramdan. Awalnya mereka tak mau mengatakannya kepadaku, tapi karna aku memaksa, akhirnya temen-temannya menceritakan semuanya. Setelah mendengar cerita itu, aku lansung menarik tangan Dinda dan mengajaknya pulang. Aku melintas didepan Ramdan dan memandangnya dengan penuh kemarahan. Tapi dia tak menghiraukan semua itu, dia mungkin hanya menganggapku angin yang berhembus didepannya.

* * *

Ternyata yang orang-orang katakan selama ini benar, Ramdan selingkuh. Betapa hancurnya hatiku saat itu. Aku tetap tak bisa menerima semuanya. Tapi itu semua adalah kenyataan, kenyataan yang terus aku tangisi. Kenapa harus Ramdan? Kenapa? Kenapa saat aku benar-benar menyayanginya, dia nyakitin aku? Semua pertanyaan itu yang terus ada dihatiku. Ingin rasanya aku membenci semua laki-laki. Tapi ketika itu aku tersadar, itu bukanlah jalan keluar dari masalahku sekarang. Aku berusaha melupakan Ramdan. Berusaha menyembunyikan rasa sakit hatiku dari orang lain.

Akhirnya dengan seiring berjalannya waktu, aku bisa melupakannya, walaupun itu memerlukan waktu yang lama. Hampir selama 9 bulan aku berusaha melupakannya. Sampai sekarang aku kelas 1 SMA.

Rasa sakit dihati aku tak akan pernah hilang, rasa sakit itu akan membekas selamanya. Tapi aku berusaha untuk tak membencinya. Aku tak ingin membenci seseorang, karena itu hanya akan menambah dosaku.

Sebuah Pertemuan (Jonathan E. X-2)

Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar.Temanku sudah menunggu diluar rumahku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya.

“Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.Seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Siska?” tanya dalam hati penuh keheranan.Siska, adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu aku juga pindah ke Bandung. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Fransisca kan?” tanyaku padanya,kuucpakan nama itu karena itulah nama aslinya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Reno. “Ren! Sini” panggilku pada Reno yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Siska!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Reno pun datang menghampiri aku dan Siska.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Siska yang tiba-tiba menyapanya. “Siska?” tanyanya sedikit kaget melihat Siska yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Bandung? Kangen ya sama aku?” tanya Reno pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jalan-jalan aja” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Reno sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis, yang tak pernah kulupkan. Akhinya Siska mengajak kami ke rumah tempat ia menginap sekarang karena ayahnya seorang pengusaha jadi suka berpindah-pindah, ia juga mempunyai rumah di Bandung. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Siska. Ketika kami sampai,

“Kamu lupa ya sama aku?“Tanya dirinya padaku."Ooh gak juga", ucapku. "Kok lupa sih sama aku", gerutu dari bibirnya mendengar ucapanku yang asal keluar itu.Dasar pikun!” ejek Reno padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus", ucapnya kesal padaku entah kenapa."Nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Reno tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Siska aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Reno padaku. “Maaf banget Sis, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Siska. “Oh gitu ya! Ya udah nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Siska padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah Siska. Sampai dirumah Siska aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Siska pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh sini masuk dulu! Siskanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Siska, tante Bella memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Siska waktu kami tinggal di Jakarta. “Sis, ini temennya dah dateng” panggil tante Bella kepada Siska. “Iya ma bentar lagi” teriak Siska dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Siska keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Siska pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Siska. “Kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Siska. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan kami pun memutuskan untuk langsung pulang kerumah, tetapi entah mengapa perutku terasa lapar, lalu aku pun mengajaknya untuk makan.Lalu kami pun mencari salah satu tempat makan di mall.Tapi jam menunjukan bahwa sekarang sudah pukul 4 sore, kami pun makan walau denga terburu-buru.Eh tak ku duga hujan turun jadi kami harus menunggu dulu tapi tante Bella berpesan untuk pulang jam 5.

Aku tentu saja tidak mau mengingkari janjiku dan Siskapun ingin segera pulang karena hari pun muali makin sore dan menuju gelap, ya menurutku itu wajar karena ia baru pertama ke Bandung.Akhirnya kuputuskan untuk pulang kupaikan jaketku pada dirinya walau ia sudah memaki jaketnya.Aku khawatir jika ia sakit karena kehujanan dan pikirku aku ini kan laki-laki pasti kuat.Dengan santai ku jalankan motor di tengah hujan deras.Sesampai dirumah Siska,badan ku basah kuyup kaya kucing di cemplungin ke empang.Akhirnya aku disuruh mampir oleh tante Bella. “Ayo Ano mampir dulu. itu dah basah semua bajunya” ajak tante Bella padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Bella."Mandi aja dulu aja!", ucap tante Bella sambil memberiku handuk.Akhirnya aku mandi juga.Saat aku mandi, aku tidak berpikir aku tidak ada baju ganti. Di situ pikiranku mulai kacau, aku mulai berkhayal dalam benakku dan berpikir dalam hati, masa aku memakai pakain wanita, karena Siska merupakan satu-satunya anak tunggal. Akhirnya dengan pikiran polos dan akal pendekku aku keluar dari kamar mandi denga memakai handuk, pikirku ku akan memakai baju yang tadi basah saja dan langsung pergi pulang ke rumah. Tetapi siapa sangka, Siska menawarkanku sepasang pakain pria yang masih baru.Aku bertanya,"ini pakaian siapa Sis?"."Ini pakainmu yang tadi aku beli dari mall tadi aku juga membelikannya untukmu."Aku hanya diam saja melihat kebaikannya itu. Lalu tante Bella mengajak aku untuk makan malam, tapi waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang saja. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar. "Dari mana aja sih jam segini baru pulang?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Siska. Kayanya aku suka deh sama Siska. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Siska terus.Saat itu sedang libur panjang makin banyak waktuku yang kuluangkan untuk seorang gadis yang bernama lengkap Vina Fransisca itu.Semakin aku rasa ada sesuatu yang berbeda saat aku memandang dirinya. Akhirnya tepat pada hari Minggu, hari dimana yang kukira ia harus balik lagi ke Jakarta untuk pulang. DI situ makin kurasa berat untuk menjumpainya, baru pertama kurasa beratnya untuk menemuinya lagi.

Akhirnya aku menelepn Reno unyuk ke empat biasanya kami nongkrong. Lalu jam 3 sore kami janjian dan kami bertemu. Ia juga tau hari itu Siska akan balik ke Jakarta, dengan tenang ia mengajakku untuk menemuinya, tapi aku berat untuk melakukan itu, kuberikan saja sepucuk surat kepada Reno untuk diberikan pada Siska."Wah, maen belakang kau rupanya!"ucap Reno."Maksudmu apa?"Ucapku.Lalu dia denga asal celetus berkata,"Kamu suka pada Siska ya?" Entah mengapa jawabku polos,"Lebih dari suka!"Lalu aku pergi saja ke Warnet yang tidak jauh dari situ, akhirnya Reno pun pergi.Entah beberapa jam berlalu aku serius maen di warnet Reno pun balik, anehnya ia balik dengan Siska. Lalu Siska menghampirikuku, dia bertanya padaku,"kenapa kamu ngasih surat kaya ginian sih?"Saya hanya diam saja, dia makin kesal, dan berkata lagi,"Aku gak akan kemana-mana lagi, aku sudah mendaftarkan ke Sekolah di sini",ucapnya. Dengan cepat aku sadar itu berarti maksdunya dia bakal tinggal di sini dong, dalem hatiku sudah senang,tapi ada yang teringat di pikirku surat yang tadi yang aku kirim.Saat ingin ku lontarkan kata-akta menanyakan surat tadi.Dengan suara lembut ia berkata,"Kenapa tidak kau katakan sejak lama, aku memperhatikanmu sejak lama, apa kau tau juga apa yang kupikirkan?" Aku hanya diam saja terpanah dengan kata-katanya.Lalu dengan singkat ucapnya lagi,"Aku.. mau kok",Tak kusangka bahasa surat yang asal-asalan ku buat menyentuh hatinya.Hanya itu yang sampai sekarang teringat dalam hatiku, dan surat itu pun masi ada pada dirinya.


Jonathan Edward

X-2 (No.19)