Minggu, 02 Mei 2010

Ni, Adakah Namaku di Hatimu? (Lindawati Sumpena X-2)

“Ni, Dinda Bantu angkat jemurannya ya!,” tawar seorang gadis berpakaian putih abu dengan ramah.
“Nggak usah!”Wanita tua itu membantah singkat dengan sedikit menggertak. Dari raut wajahnya, wanita itu nampak tersinggung. Lalu, dengan sikap tak acuh, dia melangkah tertatih-tatih mengambil tiap helai pakaian yang tergantung di atas tali jemuran.
Dinda lagi – lagi tak dapat melawan titah nininya. Akhirnya, dia hanya dapat kembali ke kamar, menghempaskan tubuh kurusnya ke atas tumpukan kapuk keras, yang telah menjadi sandaran tubuhnya sehari-hari. Sedangkan tasnya, dia banting dengan arah tak menentu. Kepenatan dan gejolak pikiran tengah mengepungnya bersamaan. Disinilah dia kerap kali merenungi nasib buruk yang selalu urung mencampakannya. Sejak kematian kedua orang tuanya, semangat hidupnya serupa mati suri. Kemiskinan yang telah menyambangi urat nadinya, makin menohok dalam karena sikap nininya sendiri, yang seolah tak menganggap dirinya ada.
Dinda mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Dari layar kecil itu, terhampar hijau perkebunan teh dengan para pemetik di sela-selanya. Semilir angin sore mengusik pori-porinya, gua-gua kecil itu menciut malu. Setelah itu berbisik di telinganya, mendongeng sebuah kisah pahit yang menjadi awal nestapa hatinya.

ффф

Siang itu, matahari bersinar begitu terik, tak seperti biasanya. Pangalengan berkeringat kepanasan. Sementara itu, awan-awan bersuka ria menikmati indahnya pesona kondensasi. Satu per satu mereka menumpangi satu sama lain, hingga terbentuklah kesatuan yang terbesar. Di sebuah saung kecil, Dinda, abah, dan ambu duduk melepas letih yang yang bersarang di punggung mereka.Gadis berusia 12 tahun itu mendekap ambunya lekat-lekat, seolah tak mau terpisah. Abah melempar senyum ledekan pada sang puteri.
“Din, malu ih udah gede!, masih aja manja-manjaan sama ambu!,”ledek abahnya.
“Biarin, ambu aja gak ngambek.”Dinda menimpalinya dengan sewot.
Dinda tak mau peduli akan sindiran dari abahnya ataupun siapapun juga. Dia bersandar lebih manja, mencumbui aroma khas ambunya itu. Ambu tersenyum, memandangi puteri kecilnya yang kini beranjak remaja.
Lama-kelamaan, langit menunjukan kelabunya. Melepaskan berjuta-juta bulir air hujan yang sempat tertawan. Pikiran ambu terganggu oleh sesuatu, terlintas di benaknya alat-alat kebun dan sekarung pupuk yang tertinggal di ujung petak.
“Masya Allah, bah. Itu, alat-alat kebun masih di bawah. Hayu kita bawa, kemarin aja punya ceu Uti ada yang maling!”Ambu mendadak was-was.
“Iya, hayu atuh kita bawa!,”ucap abah mengiyakan.
Langkah-langkah kaki mereka yang hendak tertancap keluar, terhalang oleh rajukan Dinda yang meminta ingin turut. Abah terdiam, sedang ambu dengan tegasnya menolak permintaan Dinda.
“Neng, tunggu aja disini.Liat tuh ujan gede, kalau neng ikut nanti sakit, kan besok harus sekolah”Ambu mencoba memberi pengertian pada Dinda. Naluri keibuannya terasa amat kuat, entah mengapa seperti ada firasat buruk yang tersirat dalam hatinya.
“Ih, ambu!. Alatnya kan banyak, kalau Dinda ikut bantu kan abah sama ambu gak terlalu capek. Dinda gak akan kenapa-kenapa kok!,”ucap Dinda mantap.
“Udah, pokoknya neng tunggu disini!”Kini, abah ikut-ikutan melarang.
“Tapi…..”Belum selesai seruan perlawanannya, abah dan ambu telah berlalu dari hadapannya. Dinda hanya bisa merengut, tak mungkin dia membangkang perintah orang tuanya.
Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba sebuah gemuruh tertangkap oleh sepasang daun telinganya. Disusul jeritan-jeritan yang kian lama kian terdengar samar. Entah mengapa, Dinda merasa begitu familiar dengan suara-suara jeritan itu. Debar jantungnya menjadi tak terkendali, belum lagi abah dan ambunya yang tak jua kembali. Dengan nekat, Dinda menerobos hujan yang membombardir habis sekujur tubuhnya. Dia berlari kencang, mencari kepastian.
Tiba-tiba Dinda mematung. Tangisnya pecah kala itu juga. Sebuah lubang besar menganga tak jauh darinya. Badannya terkulai lemas dan ambruk ke tanah.

ффф

Dinda memegangi dua sisi kepalanya yang terasa amat pening. Matanya memicing, berusaha memperjelas pandangannya yang masih kabur. Tempatnya kini berada terasa begitu asing. kerumunan orang turut menghalangi indera penglihatannya untuk melihat ruangan itu lebih jelas.
“Alhamdulillah, sadar juga akhirnya!”Seseorang tersenyum lega. Pemilik suara itu tak lain adalah bi Sumi, tetangga Dinda.
“Neng Dinda gak apa-apa kan?,”tanya bi Sumi kemudian. Dinda hanya mengangguk lemah.
Seorang wanita tua berjalan tertatih-tatih ke arahnya. Dinda sama sekali tak mengenal siapa dia, tetapi raut wajahnya begitu mirip dengan abah.
“Ini ninimu, neng. Ibunya abah”Bi Sumi memperkenalkannya pada Dinda.
“Nini?,”tanya Dinda bingung. Bi Sumi mengangguk membenarkan.
Walaupun luka dihatinya belum pulih benar, namun Dinda merasa senang karena akhirnya berjumpa dengan sosok nininya. Orang yang selama ini bagai teka-teki dalam hidupnya.
Dahulu, yang dia tahu, dia hanya memiliki satu nini dan aki dari pihak ambunya. Baik abah, ambu, ataupun aki nini dari ambunya tak pernah secara gamblang menceritakan sedikit saja gambaran kedua orang tua abah. Jika ditanya, abah hanya diam seribu bahasa. Sementara ambu, hanya memberi jawaban yang tak pernah bisa memuaskan dahaga keingintahuannya.
Dinda tak menyangka bahwa nini kandungnya tengah berdiri di hadapannya.Riak-riak rasa haru mencuat ke permukaan. Sudah barang tentu, nininya akan mengasihinya layaknya abah dan ambu. Akan tetapi, angan-angan itu hanya sekedar fatamorgana belaka. Nyatanya, orang yang dicap sebagai nininya itu tak pernah sekalipun ingin menunjukkan bahwa Dindalah cucunya, dan dialah nini Dinda.
Dinda dianggapnya tak lebih dari patung usang yang tak berharga. Nini seolah hidup sendiri dalam kesuraman jiwanya, tanpa pernah memberi Dinda kesempatan untuk sedikit saja meneranginya. Ditengah rongrongan diabetes yang telah mengerubungi syaraf-syaraf kakinya, nini tetap memaksa untuk tegak. Menolak segala macam hal yang bisa meruntuhkan benteng keangkuhannya. Perhatian justru datang dari orang-orang di sekitar mereka. Mau dikata apa?. Mereka hanyalah orang-orang melarat, yang tak punya lagi sanak saudara. Aki kabarnya telah lama meninggal, saudara-saudara Dinda dari pihak ambu tak tahu berada di mana. Mereka hanya bisa menjalani hidup dengan menadahkan telapak tangan. Syukurlah, perkebunan berbaik hati membiayai sekolah Dinda hingga jenjang SMA
ффф

Dinda melangkah dengan lesu, dua kantung hitam menggelayut di bawah matanya. Kenangan buruk yang menghantuinya, membuat dia terpaksa terjaga sepanjang malam. Dari belakang, seseorang tiba-tiba menepuk pundak kirinya. Dinda terlonjak kaget, dia pun berbalik ke belakang.
“Hai, Din. Aku punya berita bagus buat kamu!,”kata orang itu antusias.
“Emang ada apa?.”
Tanpa berdiam lama, Mira menarik lengan Dinda menuju ke depan Mading sekolah.
“Lomba menulis cerpen nasional?. Maksudnya?”Dinda mengernyitkan dahi.
“Aku rasa, tulisan kamu teh bagus-bagus. Siapa tahu aja, mau coba”Mira memberi saran pada sahabatnya itu.
“Maaf banget, tapi aku gak berminat!”Dinda kemudian berlalu tanpa menggubris teriakan Mira. Mira mencoba untuk terus membujuk Dinda. Dalam hatinya, dia bertekad untuk mengembalikan semangat hidup yang dulu begitu lekat dengan pribadi Dinda.
“Din, ini teh kesempatan buat kamu, buat buktiin kalau kamu bisa banggain nini!. Ya, siapa tahu aja, lomba ini bisa memperbaiki hubungan kalian!”Mira berteriak sekencang mungkin.
Bak petir, kata-kata itu langsung menyambar dan berbekas di hatinya. Dinda tertegun. Mira mengambil langkah seribu, menghampiri Dinda. Dia tatap mata Dinda dengan penuh kepercayaan.
“Aku tahu kamu masih ragu!. Toh, aku cuma ngasih saran biar kamu bisa mempertimbangkannya. Bukan tak mungkin, anugerah datang melalui cara yang tak disangka!”
Bagai seorang ahli hipnotis ulung, kata-kata Mira sanggup menggetarkan dada Dinda. Di pelupuk matanya, tercitra sebuah oase indah di tengah-tengah gurun kebuntuan hidup. Disana, dia lihat abah, ambu, dan nini tersenyum melihatnya.
“Kamu benar, Mir. Tidak ada kata salah untuk mencoba.”
Mira memeluk Dinda dengan erat. Dia berharap, tawa riangnya akan kembali menghiasi hari-harinya. Walaupun sekejam apapun dunia memalingkan muka.

ффф

Tiga minggu telah berlalu, sejak karyanya dia kirimkan ke panitia lomba. Dinda menunggu penuh harap. Tak henti-hentinya dia memanjatkan do’a kepada Tuhan, semua ini hanya untuk nininya, bukan yang lain.
Bunyi bel membuyarkan lamunannya. Dinda bergegas membukakan pintu, seorang kurir berdiri di samping sepeda motornya.
“Maaf, benar ini rumahnya Dinda Aurora?”Kurir itu bertanya dengan sopan.
“Iya, saya sendiri.”
“Ini, ada surat dari Balai Sastra Indonesia.”
Perasaan Dinda mendadak tegang. Seusai membubuhkan tanda tangan, Dinda berlari sekencang cheetah dengan membawa bungkusan putih di tangannya. Jantungnya memompa darah dengan cepat, secepat dia robek amplop yang menyelimuti surat. Perlahan, dia buka lipatan surat dan membacanya.
Jiwanya bagai terpisah dari raga, mimpi-mimpi yang beberapa hari ini dia bingkai menunjukan potret kenyataan. Namanya secara jelas terpampang dengan predikat juara II.
Dinda sibuk mencari-cari nini, dia tak sabar menyaksikan senyum haru berkembang dari bibir nini untuk pertama kalinya. Setelah seluruh ruangan di bilik sempit itu terjamah, akhirnya dia menemukan nini tengah duduk di halaman belakang.
“Ni, Dinda mau bilang sesuatu sama nini!”
Wajahnya tertuju lurus ke depan. Tak sedikitpun wanita tua itu tertarik untuk menggubris Dinda. Dinda tak berputus asa, dia menunjukan surat kebanggannya itu dihadapan wajah nini.
“Ni, Dinda menang lomba menulis cerpen nasional, jadi juara II !. Cerpen Dinda akan segera difilmkan!,”paparnya penuh semangat.
Tak ada respon yang muncul dari gerak-gerik nini. Seperti semula, dia hanya duduk dengan sikap yang dingin.Semburat kekecewaan menudungi perasaan Dinda.
“Ni..., Dinda…”Belum selesai Dinda bicara, nini bangkit dan beranjak pergi.
“Itu bukan urusanku!”Nini berkata dengan entengnya.
Suatu kalimat yang berhasil mencabik-cabik ulu hatinya. Kontan saja amarah menguasai Dinda. Seluruh uratnya tegang, matanya menyoroti nini penuh kebencian. Bom nuklir yang selama ini dengan rapatnya dia timbun, meledak dengan dahsyat.
“Nini, kenapa nini gak pernah peduli sama aku?. Kenapa nini gak pernah anggap aku itu ada!,”ucap Dinda emosional.
“Nini gak tahu kalau selama ini hati Dinda itu sakit karena sikap nini. Aku udah berusaha buat jadi cucu yang berbakti, tapi nini gak pernah mau hargai aku!”
Nini termangu, dia tetap bersikap tak acuh.
“Nini emang gak pernah butuh Dinda!. Bagi nenek, Dinda cuma pengganggu!. Kalau itu mau nini, Dinda akan turuti. Toh, Dinda sadar, selama ini nini cuma jadi pil pahit yang terpaksa harus terus ku telan. Nini udah merampas kebahagiaanku, dan sekarang aku tak sudi memanggilmu nini!”
Dinda bergegas membereskan barang-barangnya, tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan gubuk derita ini. Sesaat sebelum pergi, Dinda masih melihat nini tenggelam dalam kesombongannya.

ффф

Jakarta Convention Center, 22 April 2010
Gedung itu serupa kabut bima sakti dengan benda-benda langit yang sebagian besar memusat pada intinya. Hanya beberapa yang terletak di lengan cakramnya, selebihnya nampak begitu tertarik akan satu titik tengah.
Hari itu, seorang perempuan muda duduk santai diantara sekian banyak lontaran pertanyaan dan jepretan kamera yang menyorotnya dari berbagai sudut.
“Selamat ya mbak Dinda, kami salut lho anak muda seperti mbak sudah punya prestasi yang gemilang”Seorang wartawan surat kabar C memuji dengan sorot mata yang berbinar-binar.
“Iya, terima kasih!,”jawab Dinda ramah.
“Selamat atas penghargaan dari World Literature Unionnya mbak!. Oya, kami dengar saat usia 15 tahun, mbak berhasil memenangkan lomba cerpen dan cerpen itu difilmkan. Benar begitu mbak?”Kali ini sang penanya adalah wartawan dari stasiun TV R.
“Ya, itu memang benar. Cerpen saya yang berjudul Menepilah Oh Kabut difilmkan tahun 2000.”
Para pemburu berita sibuk mencatat kata-kata Dinda yang dianggap mereka penting. Kamera makin gencar menangkapnya dalam potret, silih bergantian, bagaikan kerlip meteor saat hendak masuk ke atmosfir bumi.
“Mbak, dari novel-novel mbak yang saya baca, saya rasa gaya penulisan mbak mirip dengan seseorang.”Seorang penggemar Dinda tiba-tiba mencuri perhatian. Begitupula Dinda, dia menatap laki-laki yang ditaksir telah berkepala 5 itu penuh tanda tanya.
“Oya, memang siapa?”
“Ajeng Widjaya. Penulis yang sempat ngetop tahun empat puluhan.”
Dinda makin tertarik akan penuturan bapak itu. Ajeng Widjaya?. Sepertinya dia tak pernah mendengar nama sastrawati itu.
“Memang tak banyak orang yang tahu dia, apalagi dengan hidupnya yang kelam. Setelah membuang anak kandungnya, Ajeng menghilang tanpa jejak.”
Banyak orang mencibir pria itu. Ada yang berkata dia hanya mengada-ngada dan ingin eksis di media, adapula yang menyangka dia hanya lelaki tua yang sedikit miring otaknya.
“Tunggu, saya punya fotonya.”
Sekonyong-konyong pria itu mengeluarkan sebuah potret dari dalam sakunya. Dengan penuh keyakinan, dia menghampiri Dinda dan memperlihatkannya.
Dinda kaget bukan kepalang, foto wanita itu juga pernah dia temukan di gubuknya dulu. Rasa sesak tiba-tiba menyergapnya. Otak hippotalamus memerintahkan bulir-bulir bening terpecah dari bola matanya.
Wanita itu adalah nini, orang yang kini dia anggap tak lebih dari manusia jalang. Hatinya tercekat, ditusuki tombak kepedihan. Kemampuan yang selama ini dia syukuri, kini terasa bagai malapetaka.
“Bahkan wanita itu diam-diam begitu kejinya menelusupkan penderitaan hingga ke otak dan intuisiku.”
Dinda menyadari, bakat yang mengalir di darahnya, diwariskan oleh nini. Entah dia harus bersyukur atau malah bersikap kufur.

by : Linda

Sabtu, 01 Mei 2010

Sang Arjuna (Tiara Puji X-2)

Pagi itu jam di tangan Dea sudah menunjukkan pukul 7 lewat lima belas menit, walhasil Dea mempercepat langkahnya lagi bahkan hingga berlari. Karena terburu-buru masuk kelas, Dea pun tak sadar telah salah masuk kelas.

“Maaf,Bu saya telat!” ujar Dea

Guru di kelas itu tercengang melihat Dea dan berkata, “Siapa kamu?”

Murid-murid di kelas itu langsung tertawa dengan gemuruhnya. Dea terlihat kebingungan karena isi dari kelas itu bukanlah teman-temannya.

“Apakah kamu murid kelas ini?” tanya guru tersebut.

Setelah berpikir sejenak dea akhirnya sadar kalau ia telah salah masuk kelas. Seharusnya ia memasuki kelas yang ada di sebelah kelas tersebut. Kelas yang sekarang didatangi Dea adalah kelas XI-IPA1. Sedangakan Dea adalah muris dari kelas X-1.

“Ma, Maaf,Bu!Saya salh masuk kelas.” Tanpa menghiraukan jawaban dari guru tadi Dea langsung berlari menuju kelasnya.

Untungnya pagi itu guru yang seharusnya mengajar di kelas Dea tidak hadir dan hanya menitipkan tugas saja.

“Dari mana aja kamu?Tumben telat. Oh, terus tadi juga aku ngeliat kamu malah masuk ke kelas sebelah sih?” tanya Vira, teman sebangku Dea.

“Damn, aku salah masuk kelas tahu. Aduh,muka aku udah abis ni masa berlakunya, harus diganti sekarang juga.” Gerutu Dea.

Vira hanya bisa menjawab dengan tawa riang.

“Ah, bukannya ngebantuin malah ngetawain, Kampret! Tapi-tapi tadi ada cowok yang lagi disuruh ngerjain tugas ma gurunya, terus kayaknya dia tu nggak bisa ngerjain tugasnya jadi aja tu guru sempet marah-marah dulu ma cowok itu.”

“Terus intinya apa?” tanya Dea.

“Intinya aku LOVE AT THE FIRST SIGHT sama cowok itu,Ra!” jawab Dea.

Dea menjelaskan pada sahabatnya itu jika cowok tadi punya karisma yang sulit dilupakan oleh Dea. Pandangan dari cowok tadi sungguh tajam tapi justru karena itulah Dea menjadi tersihir. Ditambah dengan gaya cool dari cowok itu jelas saja Dea mati kutu di tempat itu. Setelah mendengar cerita dari sahabatnya tadi Vira merasa penasaran akan rupa dari anak Adam yang telah membuat sahabatnya itu menjadi gila akan cinta.

Berhubung sekarang tekhnologi sudah semakin canggih jadinya Vira mencari cowok tadi via jaring sosial. Tapi masalahnya Vira dan Dea tidak mengetahui nama dari cowok tadi. Jadinya dua sahabat ini berusaha untuk mendapatkan profilnya dengan menanyakan namanya ke teman sekelas cowok tadi. Belakangan diketahui kalau nama dari cowok itu adalah Arjuna Putra nama panggilannya Juna. Aksi mereka mulai dilancarkan, dengan teliti Dea mencari Arjuna di akun Facebook-nya. Gayung pun bersambut Dea menemukan akun dengan nama Arjuna Putra yang memasang foto sebenarnya dari cowok itu. Jantung Dea serasa mau copot setelah melihat album foto Arjuna, Dea senyum-senyum sendiri di depan komputernya. Dea sedang menerbangkan angan-angannya untuk bersama dengan Arjuna. Tapi Dea terlalu malu untuk menambahkan Arjuna sebagai temannya, ia hanya berani melihat saja. Jadi selama ini Dea hanya melihat-lihat status apa yang dipasang oleh Arjuna, atau sekarang Arjuna sedang dekat sama siapa. Dea pun mengambil beberapa foto dari album Arjuna dan menjadikannya sebagai wallpaper di Hpnya.

Saat jam sekolah usai, Dea hampir saja menyapa Arjuna tapi di saat Dea hendak membuka mulutnya Vira tiba-tiba saja datang dan mengagetkannya. Sontak Dea langsung lari karena suara Vira yang keras itu membuat Arjuna membalikkan badannya dan melihat ke arah mereka. Selain itu Vira sudah menyarankan Dea untuk mencoba pendekatan lewat jaring sosial tapi Dea tetap mengelak, Dea berdalih jika ia terlalu takut dan malu kalau Arjuna tahu apa yang sebenarnya.

Manakala jam istirahat tiba Dea selalu menyempatkan diri keluar kelas untuk melihat Arjuna tapi saat Arjuna dan kawan-kawannya mendekat cepat-cepat dea masuk kelas dan menatap Arjuna dari balik kaca. Sewaktu Arjuna ada pelajaran olahraga Dea selalu mencuri kesempatan untuk melihatnya dari balik pintu. Pokoknya dimana ada Arjuna, Dea tak akan bisa melepaskan pandangannya pada sosok itu. Di kala Dea berpapasan atau berjalan di belakang Arjuna, Dea selalu lepas kontrol hingga membuatnya bertingkah aneh. Tapi Arjuna hanya melihatnya sekilas dan mungkin menganggap dea hanyalah seorang adik kelas yang memang aneh. Sampai suatu hari Vira menceritakan tentang semua keburukan dari Arjuna. Vira menjelaskan jika Arjuna adalah cowok yang nakal, dia suka minum minuman keras, merokok, dan yang paling parah Arjuna adalah cowok yang kasar lagi pembangkang. Arjuna tidak pernah belajar tapi dia bisa masuk kelas unggulan dan lagi nilai-nilai di raportnya selalu bagus itu semua karena Arjuna adalah anak dari pemilik sekolah. Semua murid di sekolah ini takut pada Arjuna tak terkecuali para guru-guru.

Mendengar semua cerita temannya itu Dea tersentak kaget. Mulanya ia tidak percaya tapi lama-kelamaan Dea bisa melihat jika omongan Vira memang benar. Dea merasa sedih setelah tahu itu semua. Tapi di sisi lain Dea tidak dapat menahan perasaannya yang memang sudah terlanjur dalam untuk dilupakan. Dea termangu sendiri di sudut kamarnya, air matanya terjatuh diiringi dengan isak tangis dari hati Dea.

Tak lama dari itu, hati Dea kembali dikagetkan dengan kabar Arjuna yang telah berpacaran. Dea mencari sumber informasi yang paling akurat, dan ternyata menurut mereka kabar mengenai hubungan Arjuna itu memang benar. Kini Arjuna telah berpacaran dengan teman sekelasnya yang bernama Putri.

“What???Putri, kata kamu.” Seru vira.

“Iyah. Kak Putri yang kaya cowok udah gitu preman banget kelakuannya.”jawab Dea.

“De, mending kamu kemana-manalah. Kamu cantik, pinter, baik, kurang apalagi coba. Arjuna perlu test kejiwaan deh kayaknya.”

“Hus, kalau ngomong kemana aja. Mungkin emang ada sesuatu yang menarik dari Kak Putri yang hanya bisa dilihat ama Arjuna aja.” Dea menjawab dengan lesu sambil menundukkan kepalanya ke atas meja.

Murid satu sekolah memang digemparkan dengan berita itu. Bagaimana tidak Putri adalah cewek yang kelakuannya abnormal. Dandanannya seperti laki-laki, suaranya serak-serak basah tapi sama sekali tidak ada anggun-anggunnya. Omongannya kasar dan ia pun terkenal sebagai preman cewek di sekolah. Jadi waktu ada kabar ini murid-murid di sekolah menjuluki mereka sebagai pasangan ekstrim. Karena cowok sama ceweknya sama-sama preman di sekolah.

Hari demi hari dijalani Dea tanpa semangat, Vira sering mendapati Dea melamun sendiri dan menangis. Kesehatan Dea juga sempat menurun. Sehingga untuk beberapa waktu Dea tidak bisa masuk sekolah.

“De, kamu kenapa?Kamu sakit gara-gara Arjuna?” tanya Vira dari balik telefonnya.

“Vir, apa aku salah terlalu suka sama cowok?Apa aku salah ngarepin seseorang yang aku suka?Apa aku salah ?” jawaban Dea yang membuat bingung Vira.

“De, perasaan sayang ataupun suka adalah perasaan murni yang kedatangannya nggak akan bisa disangkal sama hati, nggak ada yang bisa disalahin kalau hati kita emang udah suka atau sayang sama seseorang.” Seru Vira dengan bijak.

Perbincangan yang panjang antara Dea dengan Vira semalam menyadarkan Dea kalau apa yang ia lakukan selama ini salah. Tiap-tiap orang bebas memiliki perasaan cinta namun di kala perasaan cinta itu tak bersambut mungkin memang dia bukanlah yang terbaik untuk kita dan kita harus yakin kalau diluar sana yang di Atas telah mempersiapkan seseorang yang lebih baik untuk kita.

Telah 2 tahun lamanya Dea memendam rasa pada Arjuna. Sekarang Arjuna telah menginjak kelas XII, ia pun mulai disibukkan untuk mempersiapkan UN dan SNMPTN mahasiswa baru. Ada yang aneh dari Arjuna menurut Dea. Tak biasanya Arjuna pergi ke perpustakaan. Disana Dea memergoki Arjuna sedang serius mengerjakan soal-soal metematika untuk UN. Melihat itu jelas Dea senang, meskipun perasaannya tak berbalas namun ia tetap senang jika melihat orang yang ia sayang bisa sukses. Sekarang kelakuan Arjuna juga berubah dari yang tadinya kasar menjadi sopan saat berhadapan dengan guru ataupun teman-temannya. Dea juga sering mendapati Arjuna sedang solat dan berdzikir di mesjid sekolah.

Hari UN semakin di depan mata. Semua murid kelas XII semakin berdebar-debar menanti datangnya hari itu. Sekolah mengadakan doa bersama agar murid kelas XII dilancarkan ketika mengisi soal-soal UN. Ketika doa itu digelar semua murid tertunduk khusyu bahkan ada yang sampai mengeluarkan air matanya. Dea mencari-cari sosok Arjuna ,ia menerawangi tiap barisan kelas XII. Berhubung Dea merupakan salah satu panitia penyelenggara acara tersebut. Jadi Dea berdiam di belakang panggung dimana di depannya itu berpemandangan barisan kelas XII. Arjuna sedang menunduk khusyu sama seperti murid kelas XII yang lain. Dea tetap bisa merasakan karisma dari Arjuna seperti waktu pertama ia meliahat Arjuna 2 tahun yang lalu.

Setelah Un berhasil dilewati sekarang murid-murid kelas XII disibukkan kembali dengan ujian praktek. Sewaktu kelas X Dea sangat menantikan hari itu karena pada hari itu Dea bisa melihat Arjuna ujian praktek kesenian lewat pentas di atas panggung. Akhirnya hari itu pun tiba, sebenarnya ada guru yang mengajar di kelas Dea saat ujian praktek seni itu berlangsung. Tapi demi Arjuna, Dea rela meninggalkan pelajaran tersebut hanya untuk melihat sosok Arjuna pentas di atas panggung.

Sebulan setelah itu perhelatan hari perpisahan kelas XII dibuat besar-besaran. Di acara ini akan tampil beberapa band, yang salah satu diantaranya adalah band Arjuna. Dea sudah mengetahui jika hari ini Arjuna akan tampil sebagai vokalis di bandnya. Dea tidak sabar untuk menyaksikan aksi dari sang Arjuna. Dea menanti dengan sabarnya. Namun sebelumnya Dea sudah melihat Arjuna dan kawan-kawan tengah mempersiapkan diri di ruang ganti. Dea semakin terpukau oleh pesona Arjuna. Setelan serba hitam yang melekat pada Arjuna membuat Dea terpana. Akhirnya momen yang dinati-nanti Dea tiba. Pembawa acara melantangkan suara ketika mereka memanggil band dari Arjuna untuk tampil. Dea dengan sigap memasang mata, kamera yang ada di tangannya dengan cepat ia layangkan ke arah Arjuna seorang. Dari situ Dea mendapatkan beberapa foto dari Arjuna. Foto eksklusif yang jarang-jarang ia dapatkan. Saat tampil Arjuna memukau para penonton dengan suara scream nya yang diiringi dengan musik underground ala anak muda zaman sekarang. Meskipun Dea tidak suka dengan musik itu,namaun berhubung Arjuna yang menyanyikannya Dea tetap mendengarkan penuh perhatian. Hari sudah menjelang maghrib acara pun harus diakhiri, Dea enggan sekali meninggalkan tempat dimana ia berdiri sekarang. Karena di situ Dea bisa melihat wajah Arjuna yang sudah penuh dengan keringat karena lelah telah manggung dan menari ria bersama kawan-kawannya. Tapi keadaan menjadi buruk karena tak disangka ada seorang cewek yang menghampiri Arjuna. Cewek tersebut bukanlah Putri yang merupakan pacar dari Arjuna melainkan Siska. Dea tidak tahu mengapa harus Siska. Yang jelas hati Dea langsung terbakar api cemburu. Cemburu kali ini benar-benar menguras hati Dea. Ingin sekali ia menarik tangan cewek itu yang sedang menyeka keringat Arjuna. Karena Vira tidak tega dengan Dea, ia langsung menarik tangan Dea dan mengantar Dea pulang ke rumahnya.

“Habis deh, Ra!” ujar Dea.

“Habis,maksud kamu??” tanya Vira

“Habis udah waktu aku untuk suka sama Arjuna. Aku harus ngeakhirin semuanya. Aku nggak mau nangis lagi karena nahan perasaan ma Arjuna. Jadinya hari ini adalah tangisan terakhir aku buat Arjuna, Ra!”seru Dea.

Vira membiarkan sahabatnya terhanyut dalam kesedihan. Vira mengerti akan keadaan Dea, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan pulang. Meskipun Vira mendengar isak tangis dari Dea yang tersedu-sedu. Namun Vira tetap diam membisu. Pada hari itu, hati Dea tidak karuan. Semua perasaan bercampur aduk dan Dea ingin menyudahi semuanya. Selama 2 tahun Dea sudah menyimpan rasa. Sekarang ia bertekad untuk menghapus semuanya. Kendati Dea tetap tak bisa mengelak akan perasaannya dan Dea tahu jika ia tak akan pernah bisa bersama dengan Arjuna dan hanya bisa memandangnya dari jauh saja. Dea akan menyimpan Arjuna sebagai cinta pertamanya dan merangkainya erat di lubuk hati yang paling dalam. Sampai kapan pun Arjuna adalah kenangan manis, yang pernah menorehkan tinta-tinta indah di lembar jalan cinta Dea.

S H B T (Ketika Vokal 'a' Terselip Diantaranya) By.Nadia Natasha x2

"Diraaaaa !"
Suara yang tidak pernah absen membangunkanku.
"Hari pertama kuliah masih aja telat bangun ! Cepet bangun !"
Dengan mata masih berat aku menghampiri pinmtu tempat suara itu bersarang. "Five more minutes, Mom."
Aku pun mengambil handuk dan siap mandi.
Ya, hari ini memang hari pertama aku menjadi mahasiswa. Tepatnya mahasiswa jurusan Bahasa Inggris.Walaupun hingga saat ini aku belum melalui masa-masa ospek. Hmm aneh kan. Selesai mandi dan bersiap-siap, aku turun untuk sarapan.
"Bapak Presiden mana Mah ?"
"Udah kemana. Telat sih. Cepet makan, nanti keburu Bian dateng loh."
Tidak lama kemudian. Tid tid. Suara klakson mobil Bian. Dengan bergegas aku ambil roti dan menuju mobil Bian di depan gerbang. Bian adalah sahabat kecilku. Aku dan Bian sudah berteman sejak aku umur 6 tahun, dan sekarang aku beranjak 17 tahun. Ya cukup lama aku dan Bian bersahabat, Dia masih yang terbaik.
"Aku pergi."
Kurang dari 20 menit akhirnya aku dan Bian sampai dikampus. Bian sebenarnya seniorku hanya saja Bian mengambil jurusan Seni Rupa. Kesan pertamaku wow inilah tempat perjuanganku selanjutnya. Fiuh :'(.
"Ra, gw duluan ya. Ntr jam 11an lu udah kosong kan ?" Bian membuyarkan lamunanku.
"Hah ? Oh ia kalo g salah udah kosong. Tapi ga tau deng. Kenapa ?"
"Hmm gw tunggu dikantin ya. Gw mau ke rumah lu dulu ah. Lagu rungsing nih sama cowok gw."
"Baiklaaah."
***
Dua mata pelajaran sudah aku lewati. Hmm lumayan lah buat hari pertama. Aku pun segera menuju kantin bertemu Bian.
"Bi !" Aku melambaikan tangan ke arah Bian.
"Hey. Sini." Bian melambaikan tangannya juga dan terihat ia sedang bersama temannya. Mungkin.
"Ra, kenalin, Rei temen kelas gw."
"Hey !" Aku menjabat tangan Rei ya formalitas untuk orang-orang yang sedang berkenalan lah.
"Hey juga." Ucap Rei.
Cukup lama kita berbincang-bincang dikantin. Hingga tanpa disadari aku dan Rei yang baru dikenalkan Bian menjadi dekat. Akhirnya kita pun memutuskan untuk pulang.
"Bi, Rei itu cewek y ?" Tanya ku.
"Reihana kepanjangannya. Ya emang tomboy dia orangnya. Boyish gitu."
"Hmm keren tuh cewek." Sambil mengangkatkan ibu jariku.
"Ember. Dia temen pertama gue tuh. Tapi dia emang senior sih. Gila hasil photography-nya keren-keren banget beuh." Ucap Bian tanda semangat.
"Oh ia ? Jadi pengen liat gue."
"Besoh deh gw liatin"
Dan sampailah kita dirumahku.
***
Dikampus setelah mata kuliah selesai.
"Hey." Rei dan Bian mengagetkanku.
"Ngagetin aja lu pada."
"Eh, ospek mahasiswa baru diadain besok yah ?" Rei bertanya padaku yang memang tengah sibuk memperhatikan jadwal apa-apa saja yang harus dibawa saat ospek.
"He eh nih. Seru ga ?" Tanyaku penasaran.
"Ya lu rasain aja sendiri besok."
Dan ahkirnya. Ya !! Hari ospek itu pun datang. Semua senior khususnya dari jurusan Bahasa Inggris bersiap untuk menospek kita para junior. Beberapa jam berlalu, beberapa jam pula lah aku melewati neraka kampus. Ketika salah satu senior, Diva sedang mengoceh entahlah ngomong apa. Aku tidak terlalu menghiraukan dan aku malah ketawa-ketiwi sama teman sebelahku. Unfortunately Diva melihatku tertawa.
"Kamu ! Ada yang lucu ?" Dia menghampiriku dengan muka super juteknya.
"Ngga. Cuma lucu aja liat muka yang marah-marah"
"Maksud lu, gw ? Hah ? Lu kaya gini aja udah so cantik, gimana jeleknya ?" Dengan lempeng aku menjawab, "Kaya kamu mungkin."
Mendengar jawabanku, Diva si senior langsung membalikan badan dan pergi meninggalkanku. Speechless mungkin dia. Hahahaha.
***
Beberapa minggu berlalu setelah kejadian ospek. Aku belum bertemu dengan Bian dan Rei lagi. Mereka memang tengah sibuk menyusun skripsi yang hendak mereka selesaikan. Baru hari ini aku akhirnya bisa bertemu sahabatku, Bian. Aku pun bercerita panjang lebar tentang kejadian ospek kemarin yang membuatku terkenal dikalangan senior karena berani melawan kata-kata Diva yang katanya senior paling ditakuti. "Hah lu ngomong gitu ?" Bian tertawa mendengar ceritaku tentang kejadian ospek.
"Ia reflek aja gitu. Suer deh gue juga takut pas udahnya."
"Yaudah lah nyantai aja. Diva berani kalo lagi sama buntut-buntutnya. Dia udah terkenal laagi sering nindas juniornya."
"Hah ? Masih jaman ya tinda menindas. G ada kerjaan yang lebih bermutu apa."
"Udah nyantai. Sewot mulu lu dari tadi." Bian menenangkanku yang memang legi kesal.
Hmm entah benar atau tidak aku tidak peduli.
"Oh ia, Rei mana, Bi ?"
"Hmm dia..hmm..dia ada perlu sama keluarganya. Jadi dia absen tadi."
Ada yang aneh. Raut wajah Bian berubah ketika aku bertanya tentang Rei. Aku tahu ada yang tidak beres.
"Oh, dan sekarang gue ga ada gunanya untuk tau kalo temen gue lagi ada masalah ?" Aku bicara terkesan so' tahu. Tapi bodo ah.
"Okey Ra. Maaf kalo gw ga bisa jujur sama lu tadi. Rei emang lagi ada masalah. Orang tuanya lagi proses perceraian dan Rei baru tau semua dari tantenya kemarin. Padahal masalah ini udah satu tahun yang lalu."
Kagetnya aku mendengar apa yang di ucapkan Bian. Rei pasti sedang butuh kita, aku dan Bian.
"Lu udah coba kerumahnya ?" Bian mengelengkan kepalanya. Aku pun angakt bicara.
"Ya udah sekarang kita kerumah Rei yu ?"
Tanpa jawaban dari Bian , kami pun segera pergi ke rumah Rei.
Ting tong. Pintu rumah Rei terbuka, dan sepi didalamnya. aku dan Bian pun masuk dan melihat Rei sedang menonton TV dengan mata yang super lebam. Menagis semalaman mungkin. Saat melihat kedatangan kita pun, Rei langsung bangun dari duduknya dan memeluk kita berdua. Dan menangis. Seraya menangis, Rei menceritakan masalah dalam keluarganya. Kasihan dia. Dia anak tunggal dikeluarganya, Rei memang anak orang mapan, tapi semua terasa sia-sia ketika Rei menyadari bahwa orang tuanya tidak pernah ada waktu untuknya. Melihat perubahan Rei atau merasa bangga atas prestasi-prestasi Rei saja orang tuanya seperti tak ada waktu.
Hari itu, kita semua menempatkan diri sebagai 'The Real Friend' yang siap hadir untuk satu sama lain. Aku sayang sahabat-sahabatku Tuhan.
***
Hari kemarin mungkin hari yang terberat untuk Rei. Usahaku dan BIan untuk menghiburnya mungkin tidak cukup, tapi mungkin membantu dan Rei kini kembali punya semangat.
"Pulang dari kampus kita nonton yu ?" Ajak Rei.
"Apa sih yang ngga buat lu." Celotehan Bian membuatku dan Rei tertawa. Tapi tiba-tiba . . .
"Heh lu cewek so' cantik !" Buset si nenek sihir datang lagi.
"Kita selesein aja deh masalah kita. Males gue berurusan sama lu." Hmm bener kata Bian, dia berani kalo lagi ada pengikutnya. cih PATHETIC.
"Masalah kita ? Gue ga pernah punya masalah sama lu. Sebenernya masalah lu apa sih hah selalu nindas para junior lu ?"
"Oh. Lu ingin tau ? Karena gw ingin. Dan ga ada yang bisa ngalangin gw. Karena gw ingin dapet perhatian dari semua orang. Karena gw ga ingin dapet semua itu dari temen-temen gw, pacar gw, bahkan orang tua gw ! Puas lo !"
Entah kenapa dia jadi curhat colongan gini. Terlihat dia seperti menahan tangis. Dan Rei angkat bicara.
"Oh jadi gitu. Jadi karena semua itu lu ngelakuin hal yang sangat ga dewasa ? Asal lu tau Va, ga cuma lu aja yang ga dapet perhatian, khususnya perhatian dari orang tua. Dewasa dong lu ! Ga semua yang lu ingini tuh bisa langsung kecapai." Diva terlihat terdiam saat mendengar perkataan Rei.
"Gw emang ga ngerti dan ga tau gimana rasanya ada diposisi kalian. Tapi cukuplah Va. Ga usah lagi lu ninda junior-junior lu cuma buat cari perhatian yang ga lu dapetin."
Diva tertegun cukup lama, dan akhirnya buka mulut.
"Cara gue salah. Ya kan ? Maafin gue. Gue belum bisa bersikap dewasa. Maafin gue."
"Baguslah kalo lu nyadar." Jawabanku masih agak ketus.
"Asal lu mau berubah Va. Lu udah bersikap dewasa tuh."
Hanya maaf yang keluar dari mulutnya. "Maafin gue guys. Gue terlalu dibutakan ambisi gue."
"Nah gitu dong. Itu baru Diva yang gue kenal." Dengan muka tiis Rei berkata seperi tiu.
Aku dan Bian bersama-sama berkata, "Hah dia dulu temen lu ?"
Dan kita semua pun tertawa menandakan semua baik-baik saja. Terima kasih Tuhan, Kau pertemukan aku dengan mereka ditempat asing seperti ini. Ya sahabat-sahabatku, termasuk Diva.

Jumat, 30 April 2010

Mencari dan Menemukan (Putty Surya Andini X-2)

“Hoooam...”

Pukul 05.00 aku terbangun dari tidurku, segera bergegas untuk beribadah dan siap-siap pergi kesekolah.

Ya.. sekolahku tercinta! Dimana aku menghabiskan sebagian waktuku disini untuk menemukan hal-hal baru dan menikmati masa remajaku. Katanya sih ini salah satu SMA favorit yang ada di daerah Bandung.

Hari demi hari ku jalani seperti biasanya. Bangun pagi, sekolah, dan lain-lain. Terkadang aku merasa bosan menjalani semua aktivitas yang rutin aku kerjakan setiap harinya. Aku ingin menemukan suatu hal yang baru, sesuatu yang sampai saat ini belum aku dapatkan, atau apapun itu.

Ya.. yang aku maksud adalah CINTA. Walaupun aku sudah mulai berpacaran sejak aku masih duduk di bangku SMP, tetapi aku masih belum bisa menemukan arti sesungguhnya. Aku terus mencari, mencari, dan mencari, namun hasilnya nol.

Banyak temanku yang bilang cinta itu menyenangkan, cinta itu bisa merubah segalanya. Tapi ada juga yang bilang kalau cinta itu menyakitkan, bagaikan ditusuk oleh ribuan pedang..(Hhaha.. cukup berlebihan juga memang.)

Aku sampai bingung mana yang benar...?!

Rata-rata aku jalani dengan santai saja. Ya.. jaga-jaga aja biar aku nggak kejebak dalam cinta.

Hehhe...

Oh iya, aku sampai lupa memperkenalkan diriku.. Perkenalkan namaku Priska Sinaya Ardillah. Biasa di panggil Ika. Umurku genap 16 tahun, tapi nanti 6 bulan lagi. Hehehehee..

Sama seperti remaja yang lainnya aku masih selalu ingin coba-coba tentang ini itu. Ya.. itung-itung nambah pengalamanlah..

...

Awal aku masuk SMA aku berfikir untuk melupakan semua tentang CINTA, karena saat aku berada dipenghujung akhir mencari ilmu di SMP aku pernah merasakan pahitnya cinta. Ya.. benar yang dikatakan temanku sebelumnya ‘bagaikan ditusuk oleh ribuan pedang’ walaupun awalnya aku mengatakan agak berlebihan, namun itulah yang kurasakan.

Namun semua hal itu menghilang begitu saja saat aku mulai memperhatikan seseorang yang bernama Alvin, seorang pria yang selalu duduk dibangku paling pojok dikelasku. Kesan pada awalnya sih biasa saja, tetapi karena aku tanpa sengaja sering melihatnya lama-lama ada kesan yang berbeda,’dia lucu !!’ pikirku. Tapi pertamanya tak ada sedikitpun kesan yang lain, selain menganggapnya seorang laki-laki yang lucu. Istilah jaman sekarang sih cuma ‘ngeceng’. Karena cuma ngeceng itu pula aku jadi nggak begitu peduli sama dia. Namun aku sedikit berbeda dengan teman-temanku yang lain, biasanya kalo teman-temanku lagi pada ngecengin seseorang sih mereka nggak ada hentinya membicarakan tentang cwo itu, hampir tiap waktu mereka nyeritain ataupun nyebut nama cwo itu . hufft.. aku aja sampai capek dengernya.

...

‘Teng..Teng..Teng..’ bel tanda istirahat berbunyi. Akupun segera meninggalkan ruang kelasku untuk mengisi perutku.

Saat dikantin sahabatku Intan mengajakku untuk ngumpul-ngumpul bareng Aulia sewaktu pulang sekolah nanti, katanya sih dia pingin curhat sesuatu sama aku dan Aul.

“Hei ka..!!” terdengar suara seorang cwo yang memanggilku dari belakang.

“Eh,Hei Fer..!! Gimana sama kelasnya yang baru??Cie... hebatlah masuk kelas unggulan no.1.” tanyaku pada Fery yang merupakan salah satu dari sahabatku juga.

“Ya.. lumayanlah seru.

Hahaa.. ah kamu ini biasa aja kali nggak usah memujiku seperti itu.”

“Hehe.. biarin atuh Fer. Eh kan kelas kita tetanggaan nih.. jangan sombong ya.. awas lho..!!”

“Iya-iya tenang aja lagi aku mah nggak bakalan lupa sama kamu. Kamu juga jangan sombong ya..!!”

“iyalah urusan itu mah gampang diatur.hehhe”

...

Sepulang sekolah aku menemui Intan dan Aulia didepan kelas.

“Hei, tan,ul. Maaf ya menunggu lama.”

“iya kok nggak apa-apa, nyantai aja. Oh iya ka, Intan punya kabar gembira lho..”

“Oh ya??! Apaan tuh?? cerita-cerita donk tan.!! Pintaku sambil tersenyum-senyum.

“Uhm.. aku baru jadian sama kang Angga!” jawab Intan dengan girangnya

“Wah.. selamat ya.. aku ikut seneng juga. Moga langgeng ya.!!”

“Iya..makasih ya..”

Dan disana kita bertiga terus bercerita tentang teman-teman dan kelas baru kita masing-masing. Sampai-sampai kita lupa akan waktu kalau ini tuh sudah sore. Kemudian kami bertiga bergegas untuk pulang.

...

Keesokan harinya....

‘Hoaaam...bosan!!’ kataku saat pelajaran geografi berlangsung. Aku menunggu-nunggu kapan bel pulang akan berbunyi?? Karena aku sudah ngantuk banget.

15 menit kemudian bel yang kutunggu-tunggu berbunyi..’Akhirnya...’kataku dengan sedikit bersemangat. Saat aku hendak pulang tanpa sengaja aku berdiri tepat di tengah-tengah pintu kelas. Tanpa ku sadari Alvin masuk dan menggeser badanku karena mungkin menghalangi jalannya. Salah satu temanku yang bernama Ulfa langsung mengejekku dengan genitnya dan menyebarkan kalau aku jadian sama dia. Padahal itu semua NGGAK BENER!! Huu.. dasaar Ulfa! Gak bisa diem apa tuh mulut.. nyebar-nyebarin gosip yang gak jelas kayak gitu. Disana aku meronta-ronta bilang “NGGAK SUKA IH..KALIAN MAH JAHAT AH.. GAK SUKA POKOKNYA NGGAK SUKA TITIK”

“hahahaa.. ah ngaku aja atuh ka! Gak apa-apa lagi..”

“AH GAK TAU AH.. DIBILANG GAK SUKA YA GAK SUKA”

Untungnya itu semua tak berlangsung lama.

Gosipnya nggak jadi beredar. Aku tuh paling nggak suka digosipin apalagi yang nggak bener kenyataannya.

Sesampainya di rumah, ntah mengapa aku jadi terbayang-bayang akan sosoknya.. Kenapa?? Pikirku. Ahh.. sudahlah nggak usah mikirin dia lagi.. harus fokus sama pelajaran untuk meraih cita-citaku menjadi seorang dokter hewan. Semangat...!!

...

Kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda terhadap diriku. Sesuatu yang pasti dirasakan oleh setiap orang, dan juga pernah aku rasakan sebelumnya.SUKA?? Haah.. nggaklah!! aku udah pernah bilang sebelumnya kalau aku nggak suka sama dia.

Tapi rasa ini kian lama kian memuncak. Saat aku menceritakan hal ini pada Fery, dia bilang kalau aku memang menyukai Alvin. Aku sempat terkejut sejenak saat Fery menyimpulkan hal itu. Namun akhirnya aku sadar bahwa aku tidak boleh lagi memungkiri semua ini. Mungkin inilah yang kurasakan padanya. Apa ini akibat omonganku waktu itu?? Ahh.. tidaaak...

Saat itu aku jadi sering curhat tentang Alvin pada Fery. Tentang perasaan, tentang kelakuannya Alvin, dan segalanya. Saat itu pula aku dan Alvin menjadi dekat dan saling mengenal satu sama lain melalui pesan singkat lewat handphone.

Beberapa bulan kemudian...

Aku dan Alvin berpacaran. Waaaa.... hati aku bener-bener senang waktu itu. Gak nyangka aja Alvin punya perasaan yang sama terhadap aku.

Baru beberapa minggu pacaran aja aku dan Alvin sudah mempunyai beberapa konflik. Yang pertama masalah cemburu.. ya wajar aja sih, tapi kalau dipikir-pikir terlalu berlebihan dia cemburu sama aku. Padahal itu semua sama sekali nggak ada benernya sedikitpun!! Kemudian muncul masalah-masalah lagi. Dan akulah yang selalu menjadi pokok permasalahannya. Tapi lagi-lagi semua itu nggak bener, lagi-lagi semua itu salah paham.

Satu bulan ... dua bulan telah aku lewati bersamanya. Namun belum terlihat sesuatu yang berbeda seperti sebelumnya. Sampai akhirnya rasa sayang aku pada Alvin semakin berkurang, ntah mengapa hal ini bisa terjadi. Mungkin karena selama dua bulan itu aku merasakan nggak enaknya terus-terus disalahkan. Namun selama dua bulan itu pula aku bertahan, apalagi alasannya kalau aku masih sayang dia.

Tapi disaat perasaan aku mulai berubah, sikap Alvinpun berubah. Berubah menjadi lebih perhatian, lebih sayang, dan segalanya yang aku tunggu-tunggu sejak dulu. Tapi kenapa harus sekarang??? Kenapa gak dari dulu ?? ya aku tau mungkin perubahan itu membutuhkan beberapa proses, aku bisa pahami itu. Namun sayangnya ku pikir dia terlambat. Andaikan dia bisa mengembalikan kembali rasa yang tlah hilang itu.

Sampai akhirnya hari yang paling burukpun datang. Saat itu Alvin memanggilku untuk membicarakan sesuatu.

“ka, sebenarnya kamu kenapa? Kok kamu jadi berubah gini??”

Tapi aku hanya diam terpaku dan tak menjawab pertanyaannya. Jujur saat itu aku gak tau mesti gimana lagi. Namun Alvin terus mengajakku berbicara, tetapi sikapku masih sama ‘diam tanpa kata’. Sebenarnya aku mau bilang kalau perasaanku padanya sdaah tak sebesar yang dulu lagi, tapi aku takut membuatnya sedih.

Aku nggak bisa terus-terus kayak gini. Aku harus bertindak.

“Vin, sebenarnya perasaan aku ke kamu tuh udah berkurang nggak sama kayak dulu lagi. Nggak apa-apakan kalau kita jadi temen aja. Gak apa-apa kan vin??” kataku dengan hati-hati karena takut salah ucap.

“nah gitu donk.. kan jadinya bisa jadi temen dan bukan jadi musuh.. ya udah gak apa-apa kok” kata Alvin sambil mengulurkan tangannya padaku.

...

Di hari pertama setelah kejadian itu aku masih bersikap biasa. Begitupun hari berikutnya. “ka, memang awalnya seperti itu, tapi coba liat kalau udah satu minggu. Pasti ada yang beda. Ya kamu jangan nyesel aja yaa..!!” ucap Fery menasihatiku.

“makasih ya Fer, mudah-mudahan aja aku bisa melupakan semua kenangan itu.”

Yang dibicarakan Ferypun ternyata benar adanya. Aku merasakan kehilangan. Saat itu aku nggak tau harus berbuat apa.

‘Apa aku masih suka sama dia?? Ah tidak, itu tidak boleh terjadi.’ Namun rasa yang tertinggal itu masih ada di benakku, belum lagi semua kenangan itu masih tersimpan di memori otakku. Ya allah tolong aku melupakan semua itu, walau ku tau aku tak bisa semudah itu melupakannya. ‘Ku tlah mencoba tuk hapus kenangan itu.. namun ku tak pernah bisa..’ itulah kata-kata yang selalu terbayang di pikiranku. Ternyata dari sinilah aku bisa menemukan semua jawaban dari tanda tanya besarku masalah CINTA. Walau aku sudah berulang kali merasakan berpacaran, namun yang kali ini berbeda. Inilah cinta... bukan hanya sekedar suka saja seperti yang ku rasakan sebelumnya.

Dari semua ini aku bisa menyipulkan bahwa :

1.cinta itu tak harus memiliki

2. walaupun dia bukan milikku lagi, tapi bukan berarti kita tak punya semangat hidup. Seperti yang sering aku dengar ‘aku tak bisa hidup tanpamu’ bagiku semua itu terlalu berlebiahan, bukan berarti hidup kita itu bergantung terhadap urusan yang seperti ini.

SAHABAT ATAU SAINGAN (Siti Fatimah X-2)

“kriingggg!!!”
Aku terbangun dari tidurku mendengar suara alarm yang aku simpan di samping tempat tidurku dan aku segera bersiap untuk pergi ke sekolah baruku.
Namaku Tita, lengkapnya Yustita Maharani. Saat ini umurku baru menginjak 15 tahun. Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke sekolah baruku. Aku adalah siswa baru di salah satu SMA Negeri di Bandung, sebelumnya aku bersekolah di SMA Negeri di Jakarta. Karena pekerjaan ayahku di pindahkan ke daerah Bandung, mau tidak mau aku dan ibuku ikut pindah ke Bandung.
“selamat pagi anak-anak!” sapa bapak Waluyo selaku wali kelas X-2.
“hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari Jakarta,Tita!! Silahkan masuk” pak Waluyo mempersilahkan aku masuk kelas.
Dengan gugup aku masuk ke kelas tersebut dan mulai memperkenalkan diri.
“ selamat pagi, nama saya Yustita Maharani, tapi teman-teman bisa memanggil saya Tita saja. Saya harap saya bisa diterima dengan baik di kelas ini “ kataku saat perkenalan.
Hari itu sekolah berjalan dengan lancar,aku bisa dengan cepat akrab dengan teman-teman baruku di kelas. Sejak saat itu aku menjadi lebih dekat lagi dengan beberapa teman yang sampai sekarang aku anggap mereka adalah sahabat-sahabatku. Mereka adalah Dina, Yuniar, Rana dan Dita.
Setelah kurang lebih 2 minggu aku menjadi anggota baru di kelas X-2, sedikit banyak aku mulai mengerti dan memahami sifat dan watak anak-anak di kelasku, tapi tidak dengan seorang cowok di kelasku, namanya Adit. Dari pertama aku masuk kelas tersebut cowok ini sudah memperlihatkan sikapnya yang misterius. Seperti sering menyendiri dan terlihat tidak peduli dengan keadaan kelas. Sikapnya itulah yang membuatku sering memperhatikannya karena menurutku cowok seperti itu adalah cowok yang menarik dan penuh kejutan.
Setelah beberapa lama aku memperhatikannnya, ternyata Dina dan yang lainnya pun sering melihatku sedang memperhatikan Adit dan membuat mereka curiga. “heh Ta!!” tegur Dita saat aku sedang melamun di kelas. “aku lihat akhir-akhir ini kamu sering memperhatikan Adit, kamu suka sama dia ya?” sambil sedikit mengintrogasi aku. “kata siapa? Aku gak pernah merhatiin dia” jawabku sambil sedikit mengelak. “ aku juga sering loh liat kamu sampe terpesona merhatiin Adit” sambung Rana. “kayaknya kalian udah salah sangka deh,aku tuh gak pernah merhatiin dia lagi, cuman kadang aku heran dengan sikapnya yang sedikit misterius,menurutku” jelas aku. “dia sih bukannya misterius,tapi aneh!!” celetuk Yuniar saat dia baru datang. “jangan-jangan kamu udah mulai suka ya sama Adit??ngapain sih suka sama orang kaya dia,udah aneh kaya gak punya semangat hidup tau gak!!” kata Dina menyambung semua omongan anak-anak yang kain.
Sejak teman-temanku mengintrogasi dan mulai curiga dengan sikapku itu, aku mulai berfikir apa benar aku mulai suka sama Adit? Jujur aja setiap ngeliat dia tuh aku ngerasa seneng gimana gitu. Apalagi saat aku sedang memperhatikan Adit, tiba-tiba Adit liat aku terus dia senyum deh..huuuaaahh serasa melayang di senyumin Adit. Suatu hari Yuniar meminjam buku bahasa Inggris ku. Keesokaan harinya dia mengajaku ngobrol berdua saja. “ Ta, jujur deh,sebenernya kamu suka kan sama Adit?” Tanya niar “gak!aku gak suka sama Adit,aku kan udah pernah bilang sam kamu soal ini” jawabku sedikit marah. “tapi ini apa?” dia menyerahkan bukuku yang dia pinjam kemarin dan membuka halaman terakhirnya. Di buku itu tertulis “MUNGKIN AKU MEMANG MENYUKAINYA,ADITYA PRATAMA”. Astaga!! Aku lupa ! itu kan tulisan ku sebelum niar meminjam buku itu” ucapku dalam hati. Tulisan itu memang aku yang buat saat aku sedang memperhatikan Adit tapi aku tidak tahu kalo buku yang aku tulisi itu dalah buku yang dipinjam Yuniar. “Ta! Jawab dong!!kamu suka sama Adit” desak niar. “iya niar, sepertinya aku memang mulai menyukainya” sambil menunduk aku menjawab pertanyaan Yuniar. “ya ampun Ta!kenapa gak bilang dari dulu sih?tau gitu kan mungkin aku bisa bantuin kamu” kata Yuniar sambil memelukku. Sejak saat itu, merembet teman-teman ku yang lain mengetahui tentang perasaanku.
“hei tau gak!tadi malem Adit sms aku loh!” kata Dita pada keesokan harinya. “oya?sms apa?” tanyaku tanpa curiga. “ pertama sih memang aku yang sms dia duluan,karena aku mau nanyain tugas kelompoknya dia,eh malah jadi keterusan deh..hahaha!ternyata dia baik juga ya?lucu pula anaknya” sambung Dita yang terlihat sangat senang dan tak henti-hentinya muji-muji Adit “iya kan!apa aku bilang Adit itu gak seaneh yang kalian kira” kataku dengan tenang. Setelah satu minggu aku dengar Dita mulai sering sms Adit dan hubungan mereka pun semakin dekat.
Pada saat yang sama Adit dan aku juga lebih dekat dan memang sering berkomunikasi. Tapi suatu hari saat aku tidak sengaja mendengar sahabat-sahabat ku sedang ngobol di kantin sekolah, aku mendengar perkataan mereka yang membuat aku sangat terkejut,
“ eh ternyata bener ya si Dita ternyata memang suka sama Adit” kata Dina,
“ oya? Trus Tita tau kalo Dita juga suka sama Adit? Sambung niar.
Sakit hati. Itu kesan pertama yang ku rasakan saat aku mendengar ternyata di belakang ku Dita juga suka sama Adit,cowok yang dia tau sangat aku suka.
Sejak saat itu aku mulai tertutup pada teman-temanku tentang Adit, aku juga tidak pernah mengungkit masalah Dita dan Adit di depan teman-temanku.
hari ini hari senin, dimana aku akan menghadapi ujian akhir semester di sekolahku,seperti biasa aku datang ke sekolah dengan sikap seolah-olah aku tidak tau berita tentang Dita yang makin rajin mendekati Adit. Dita pun sama,dia tidak pernah sedikitmun mengungkit masalah ini.
Hari kedua UAS saat semua anak sedang belajar di luar kelas, belajar sebelum ujian di mulai, Adit tiba-tiba dateng dan memberikan sebuah buku pada Dita “ makasih ya ta,untung ada buku kamu” kata Adit, lalu dengan girangnya dia membawa buku itu dan pergi ke kelas dan langsung memberitahu Rana yang sedang ada di dalam kelas. Ternyata kemarin Dita sengaja meminjamkan bukunya pada Adit,karena dia tau Adit tidak punya buku paket biologi,sampai-sampai semalam Dita tidak belajar karena bukunya dipinjam Adit.
Saat ulangan selesai,aku bertanya pada sahabatku Yuniar.
"niar,apa benar akhir-akhir ini hubungan Adit dan Dita semakin dekat? dan apa benar Dita juga menyukai Adit?" tanyaku pada niar, tapi niar hanya menjawab dengan nada yang sedikit terdengar kasihan dan tidak enak.
"sebenarnya saat kamu mulai sering membicarakan Adit, Dita pun mulai menyukai Adit,soalnya Adit itu cowok yang dia cari selama ini,katanya " kata niar padaku.
" tapi Ta,kamu jangan pernah marah ya sama Dita" sambung niar padaku.
" aku ga pernah marah sama Dita, bahkan aku berencana untu mengalah buat dia" kataku dengan sedikit terisak.
" kamu serius Ta? apa tidak sebaiknya kamu ngomong dulu sama Dita?biar semuanya jelas!" Ucap niar.
"aku belum siap untuk kehilangan sahabat niar" kataku sambil lanjut pergi dan pulang.
Sejak saat itu aku telah memutuskan untuk berusaha melupakan seorang Aditya Pratama, walaupun sulit tapi aku berusaha karena aku percaya pepatah kalau CINTA ITU TAK HARUS SELALU MEMILIKI,terdengar agak lebay memang,tapi itulah yang aku lakukan. Sebenarnya saat itu aku sangat berharap sekali lakau Dita akan ngomong tentang perasaannya itu padaku,karena sampai aku memutuskan untuk melupakan Adit pun,Dita belum pernah sekalipun berbicara tentang Adit padaku,entah karena dia tidak enak atau memang dia memang ingin merahasiakan semuanya dari aku,aku tidak tahu.Selang beberapa hari,aku mendengar kalau Dita dan Adit jadian???apa itu benar??pertama aku tidak percaya akan secepat itu,tapi tenyata dugaan aku salah,mereka memang BERPACARAN.
Malamnya, Dita menelfonku.....
"Ta,maaf sebelumnya.....a...a...aku sudah jadian dengan Adit. Kamu gak marah kan?" katanya dengan nada bicara senang.
"oh,jadi kalian berdua udah jadian?selamat ya!aku ikut senang” dengan lemas dan sedikit tekejut,aku menutup telfon. Saat itu aku aku bingung harus berbuat apa,jujur aku kecewa dengan apa yang terjadi, tapi disisis lain aku senang melihat sahabatku bahagia. Malam itu aku habiskan dengan menangis yang alasannya aku juga tidak tahu,yang jelas aku kecewa malam itu.
Keesokan harinya aku datang ke sekolah dengan mata yang sembab karena menangis semalaman, saat aku sampai pintu kelas, sahabat-sahabatku langsung memelik dan mencoba menenangkanku. Walaupun aku mengatakan bahwa aku tidak apa-apa tapi memang benar aku tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewaku pada sahabat-sahabatku.
Tapi dari kejadian itu aku belajar jika tidak semua yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan sekalipun kita sangat ingin mendapatkannya. Kalau kita mau berusaha,pasti kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang kita inginkan…….(so’ tua ya aku..hha)

Kamis, 15 April 2010

Bonbin Attack 2010

Ga kerasa banget klo sekarang kita uda di penghujung tahun ajaran.
Yupz, kelas XII mulai disibukan dengan UN, US, dan UPra.
Sedangkan kita......??
LIBURAN.......!!!

Untuk mengisi liburan US kemaren, tepatnya hari Rabu 7 April 2010, kita ngadain acara maen ke bonbin.
Entah kenapa Trydo ngasi nama "Attack Bonbin."
Tapi kita enakan nyebut "Bonbin Attack."

Event Invitation uda di kirim ke semua member di official group on facebook X-2.

well, kita langsung aja balik lagi ke hari itu....
cekidot...!!


Hari itu hari Rabu tanggal 7 april 2010.
Ya, hari yang biasanya penuh dengan tugas.
Namun hari ini kita libur, dan kebiasaan "baik" kita kembali dilakukan.
Tidak lain dan tidak bukan, kebiasaan itu adalah bangun siang. (lho,, koq yang kyk gtu dibilang baik??)
Akibat kebiasaan baik itu, jam keberangkatan pun tertunda lebih dari 1 jam.
Yahh, maklumlah kita kan orang Indonesia.
Ga rame klo ga ngaret.....
hehehehe.....

sebenarnya kita disuruh kumpul jam 8, tapi kenyataannya warga baru terkumpul jam 9.00 pagi.
(kasian yang dateng jam 8 kayak ane)
anyway, kita uda terkumpul semua...
Munculah 1 pertanyaan : "ANGKOTNYA MANA.....??"

Sialan, yang ngebooking angkotnya janjian jam 9.30...!!
Alhasil kita semua mesti nunggu setengah jam... (klo ane sii 1,5 jam berhubung dateng jam 8)

------30 menit kemudian--------

Akhirnya kendaraan mewah itu dateng juga.
Iya, kendaraan termewah sehingga orang-orang banyak yang pengen naik makhluk ini.

Ternyata, jumlah warga tidak sebanding dengan kapasitas angkot.
Damn......!! terpaksa sebagian naek motor...

okelah, kita tetep berangkat......!!


-------sekitar 45 menit kemudian-------

yess,, kita sampai di TKP.....!!
loket tiket pun menunggu didepan mata.....

setelah itu kita masuk ke kandang hewan raksasa itu....
seperti biasa, vanny yang menjabat jabatan panitia tour itu mengurus tiket.

kami pun sebagai pengunjung langsung mengantri dibelakang barisan anak TK.
karena kita uda SMA, kita juga nunjukin sikap tertib saat masuk objek wisata itu dengan baris dan berpakaian rapi.
tidak lupa diperiksa kuku...
hahahaha.....

(ngarang saeutik nyakk...)

well,, kita sekarang masuk ke kandang hewan raksasa ini..

para prajurit ini pun lalu menuju ke kandang monyet.
disana kita menghabiskan cukup banyak memori untuk berfoto ria.
yup, indahnya kebersamaan....!!

dan WISATAPUN DIMULAI.......!!
(prok...prok...prok.... suara pembaca bertepuk tangan)

-----------------------------------

Tidak terasa jam menunjukan pukul 1 siang.
kita beranjak meninggalkan bonbin..



2nd destination : KINGS

let's guys...........!!
si supir kemudian mengemudikan mobilnya.
seperti biasa, kita kena macet super edan dijalan Dago (Jl. Ir. H. Djuanda).
kita pun berasa di sauna dalam ruangan berukuran sekitar 1,5 x 5 meter tersebut.
maklumlah, kita naik angkot... (ga ada AC)

kita pun sempat berputar-putar ria disekitar jalan braga..
ahh,, sebelumnya kita janjian di braga, tapi ternyata jadinya di Kings.
terpaksalah kami berjalan dari jalan Naripan hingga jalan Dalem Kaum.

Yess.....!!
kita sampai di TKP.....!!

kita pun menunggu sekitar 1 jam lebih untuk mendapatkan tiket film yang akan mulai dijual tepat jam 3 sore.
kita beruntung mendapatkan antrian pertama dan berhak atas kursi-kursi A, B dan C..

lalu kita menunggu.....menunggu......dan menunggu hingga pintu masuk teater dibuka.
dan akhirnya pintu dibuka..
para jemaah ini lekas masuk keruangan itu..

lalu film pun dimulai dan kita seperti biasa membuat sedikit kegaduhan didalam.
hahahaha....
asik.....!!

teater itu berasa punya kita soalnya kita rombongan paling banyak saat itu..

dan akhirnya kita pulang sekitar pukul setengah 5 sore.


Eiiiiitttsss,, kisah seru belum usai....!!
mari kita simak lagi ceritanya....
sorry ya klo cape bacanya...
saya juga yang nulisnya cape.....
sebanding kan??

sebagian rombongan telah masuk ke angkot...
si supirpun telah menginjakkan kakinya ke gas.....

ehh ternyata ada beberapa orang yang ketinggalan.....
hahahahaha........

beruntung angkotnya ga terlalu jauh,, si angkot berhenti di jalan otista...
mereka pun menggunakan angkot lain menuju sana..
alhamdulillah mereka sampai dan kembali bergabung kedalam rombongan itu...

keceriaan hari ini pun harus berakhir disini....

THE END
fotonya upload nanti aja ya.....

Selasa, 09 Februari 2010

Uppss,, maaf telat....!!

Jumat, 15 Januari 2010


hari ini hari yang indah,,

beuh,, bagaimana tidak, kita hanya belajar 3 mata pelajaran saja.....

dari yang biasanya numpuk minta ampun, ehh, hari jumat sedikit dikorting berhubung shalat jumat...


2 jam pertama pun usai....

dengan gembira kita menyambut pelajaran ke 2 pada jam ke 3-4...

kenapa gembira...??

karena ini pelajaran ibu ekonomi...

ngerti kan..??

guru ekonomi yang gokil ini udah tua, namun jangan sangka, beliau pandai juga membuat kita tertawa....

(sedikit hiburan setelah tegang selama 2 jam pertama pelajaran matematik)


saat pergantian pelajaran itu, beberapa orang nampak keluar...

entah mau apa mereka keluar..

yang pasti saat mereka masuk kembali ke kelas,,

Uppsss,, si ibu udah ada......!!

wakwaw,, (kartun mode : ON)

si ibu dengan tenang dan anggun berkata: "timana wae atuh kasep geulis...??"

mereka yang tertangkap basah "dikandangin" didepan kelas dan menjawab: "habis dari belakang bu.."

nampaknya ibu ini telah mengetahui seluk beluk tipu daya para siswa yang rata-rata jenis tipuannya sama.


bu Etty : "wahh, maenya..?? naha aya aqua eta....??"

si ute klo ga salah jawab gini : "iya bu, kita habis dari WC, tapi udah gtu ke kantin dlu"

sontak semua siswa tertawa....

hahahaha.... LOL


dengan anggunnya si ibu menyuruh para tersangka itu untuk menyanyi di depan.....


ini dia fotonya...:



keren nyak...??
only at X-2 ...!!